Terkadang aku merasa
minder dengan tulisan-tulisanku yang bisa dikatakan tidak layak baca.
Hmm..bukan orang lain yang mengatakannya, tapi aku sendiri. Aku suka minder
dengan tulisan yang ku miliki. Setiap membaca novel, cerpen dan puisi yang ada
di google, facebook, buatan temanku, atau di media mana saja, aku selalu down.
Seakan-akan aku berpikir bahwa aku tidak mampu untuk bisa menulis. Aku selalu
mencoba untuk mengikuti ajang-ajang lomba cerpen dimanapun itu dan siapapun
yang mengadakannya. Hal ini hanya untuk mengukur kemampuanku. Yaah, aku tidak
pernah memandang apa hadiahnya.
Kini, aku berhenti
menulis sejenak. Aku ingin menikmati hidupku dengan membaca tulisan-tulisan
yang enak dibaca. Rasanya sedikit sombong. Saya yang tidak memiliki kemampuan
untuk menulis, tetapi berhenti menulis. Tahukah kau, bahwa yang membuat orang
sukses itu bukanlah kemampuan?? Tentu, aku tahu. Kemauanlah yang membuat orang
sukses. Nah, kalau begini mengapa aku ujug-ujug
mau memberhentikan aktivitasku untuk menulis. Seharusnya, minder jangan
dijadikan sebagai alasan untuk berhenti menulis.
Seperti yang dikatakan
oleh Ustadz Felix dalam ceramahnya yang berjudul Habits, kita itu bisa
menguasai suatu bidang dengan otomatis. Keahlian itu bukanlah faktor genetis
apalagi kesuksesan. Jika orangtua sukses yang anaknya juga sukses, maka kita
memandangnya bukan dari faktor genetisnya akan tetapi langkah apa yang
dilakukan orangtuanya untuk mendidik anak tersebut. Nah..lo...??
Kesimpulannya, kalau
ingin jadi penulis maka aku harus memulai langkah-langkah yang dilakukan oleh
penulis-penulis pada umumnya. Seperti yang telah dilakukan oleh abang Tere Lije
“Menulislah 1000 kata perhari tanpa absen sekalipun maka dalam 6 bulan, maka kalian
tidak membutuhkan guru siapapun untuk bisa menulis lebih baik dari siapapun”.
Kalau direnungkan, apa
yang disampaikan Ust Felix dan Abang Tere Lije intinya sama. Menulis itu hanya
butuh kebiasaan saja, habits lebih tepatnya. Setelah terbiasa, maka hal
tersebut akan menjadi otomatis.
Nah, sekarang aku sudah
tidak ada lagi alasan untuk tidak menulis. Tulislah apa yang kamu bisa tulis.
Paksalah jika kamu berat untuk melakukannya. Awalnya mungkin sebuah
keterpaksaan, tapi nantinya akan menjadi luar biasa jika hal tersebut sudah
menjadi kebiasaan.
Sekarang saya akan
berbicara tentang buku diary (buku harian). Inilah buku yang lebih banyak
dimiliki oleh kaum hawa. Kalau kaum adam, ngapain???
Pernah kami panitia SDP
Jurnalistik OSPEK FMIPA UNY 2012 menanyakan hal ini kepada Humas Rektorat, Pak
Dedi. Saat itu beliau selesai mengisi acara untuk maba sebagai Pembicara dan
kami ngobrol dengan beliau. Salah
satu panitia yang biasa disapa dengan “Mbak Ika” menanyakan “Pak saya dulu suka
nulis di buku harian, tapi setelah saya pikir-pikir menurut saya nulis buku
harian itu tidak penting”.
Lalu beliau menjawab
“Ya, begitulah kita suka meremehkan hal-hal yang kecil. Memang banyak orang
yang menganggap bahwa buku harian itu tidak penting, tapi coba kita lihat
dampaknya. Menulis buku diari itu sebenarnya melatih kita untuk mengarang. Jika
hal itu dijadikan kebiasaan, maka untuk menulis kita kan nantinya tidak akan
kaku”. Jadi hal yang kecil itu bisa menjadi sangat penting untuk mengasah
kemampuan kita.
Sekelumit cerita ini
telah menghabiskan 437 kata. Cerita tersebut hanya sebagai pengantar saja untuk
memancing diri saya dalam memulai langkah sebagai penulis. Berhubung saya juga
tidak mempunyai ide untuk menulis, jadi aku memakai saran dari Ust Felix.
Intinya mengandalkan Habits saja.
“Don’t you ever be
afraid, believe in you”. Yupz, jangan takut dalam keadaan apapun dan percaya
pada kemampuan diri sendiri. Terkadang aku takut dalam menghadapi suatu hal
dengan membayangkan suatu yang tidak-tidak. Padahal setelah aku melakukannya,
ternyata aku bisa. Tahukah kau?? Senang banget rasanya. Awalnya saya
menggunakan prinsip yang diberikan oleh seseorang “Biarlah raga dan waktu bekerja, yang paling sulit adalah mempertahankan
azzam” sampai akhirnya aku mempunyai prinsip sendiri “Don’t be afraid and believe in you”. Tetapi prinsip dari dia tetap
masih aku gunakan.
Ocehan ini juga telah
mengantarku ke 599 kata. Waw.. super sekali kan.
Mungkin yang mau
membaca ocehan tidak bermutu ini hanya beberapa orang saja. Itu pun yang lagi
nganggur. Yang lagi sibuk mana mau?? Iya nggak?? Hmm...saya mau ngoceh lagi
aah.. sampai 1000 kata. Tapi aku bingung mau ngomongin apa lagi.
“Cintamu tlah menangkan
ruang hatiku”. Tahu tidak cuplikan lirik tersebut?? Yupz, itu lagu milik Mikha.
Kenapa aku nulis liriknya dia? Karena aku lagi ndengerin lagu dia. Kenapa harus
lagunya dia?? Emmh,,sesuai dengan perasaanku kali ya..hahaha
Sebenarnya aku ingin
curhat, tapi sepertinya tidak perlu. Karena ini latihan nulis, bukan latihan
curhat.
Sekarang ngomongin
apalagi ya..
Karim Benzema aja deh.
“huuuuuuuuuuuuuu....”
Jangan sorakin aku
lah.. kan jadi sedih.. T.T
Bukan karim benzema
yang istimewa, tapi orang yang telah memanggil aku dengan sebutan karim
benzema. Hmm, pertama kali menyapa, dia memanggilku dengan sebutan karim
benzema. Aneh nggak sih?? Bahkan dia
belum pernah memanggilku dengan namaku.
Eh,,tapi belum pernah
lho ada orang yang memanggilku dengan Karim Benzema. Yaa,,terkadang aku dinilai
terlalu terobsesi dengan benzema. Ya memang, aku suka sekali dengan Benzema.
Entah mengapa saat nonton dia bertanding, aku jadi semangat. Tapi jujur,
cintaku bukan hanya sebatas ucapan. Cintaku ada di hati yang diam-diam tidak
aku ungkapkan. Tahukan kau?? Siapa orang yang telah memenangkan hati ini??
Haiishh... tidak perlu
diperbincangkan. Tapi yang penting ocehan tidak jelas ini telah mengantarku ke
819 kata.
Tinggal sedikit kan,
kata yang haru saya tulis untuk menuju ke 1000 kata. Iya donk, jelasss.
Masalahnya sudah kehabisan ide. Bagaimana donk. Hmm,,jadi ingat tugasku yang
belum kelar, LKTI, Abstrak. Owh.. aku harus kejar Deadline ni.
Santai-santai, don’t be
afraid Nurul. Pasti bisa, semua kan indah pada waktunya.
Ohya, kini aku akan
mengungkapkan rasa kangen aku terhadap “My Baby” Ali. Kamu udah punya bayi??
Haha,,ya belum lah, itu anaknya tanteku. My Baby pokoknya, Bayiku. Hahahaha...
Anaknya lucu banget.
Pipinya sangat mempesona, entah kalau pas ketemu aku berapa kali mencium
pipinya. Pipinya tu proporsional, kepalanya benar-benar bulet, aku harap dia
nanti bisa jadipemain bola seperti Karim Benzema, sekalian menaklukkan kora Roma
bersama anak saya ya.. hehehe..
sSebentar lagi dia akan
pindah ke Jogja, jadi aku bisa main kapan-kapan, bisa mencium kapan-kapan juga.
Oya,,hal ini juga tidak kalah penting, aku punya guru bahasa inggris yaitu
tante Arum, ibunya My Baby Ali. Jadi aku selain belajar bahasa Arab dengan Om
The Rud, aku juga belajar bahasa Inggris dengan Mbak Arum. Yaah.. mungkin hanya
ini yang bisa saya sampaikan. Cukup sekian dan terimakasih.
alhamdulillah..
BalasHapusmasih mending udh berani menulis walaupun minder
nah sy??? kurang ada motivasi kali y.. hehe
iya,,Alhamdulillah..
Hapuskuberanikan diri,,kalau tidak kapan lagi???hehe...