Me and Friends

Me and Friends
FOSMAN (Forum Scientist Muda Nasional)

Senin, 13 Mei 2013

1000 kata di 13 Mei 2013



Terkadang aku merasa minder dengan tulisan-tulisanku yang bisa dikatakan tidak layak baca. Hmm..bukan orang lain yang mengatakannya, tapi aku sendiri. Aku suka minder dengan tulisan yang ku miliki. Setiap membaca novel, cerpen dan puisi yang ada di google, facebook, buatan temanku, atau di media mana saja, aku selalu down. Seakan-akan aku berpikir bahwa aku tidak mampu untuk bisa menulis. Aku selalu mencoba untuk mengikuti ajang-ajang lomba cerpen dimanapun itu dan siapapun yang mengadakannya. Hal ini hanya untuk mengukur kemampuanku. Yaah, aku tidak pernah memandang apa hadiahnya.
Kini, aku berhenti menulis sejenak. Aku ingin menikmati hidupku dengan membaca tulisan-tulisan yang enak dibaca. Rasanya sedikit sombong. Saya yang tidak memiliki kemampuan untuk menulis, tetapi berhenti menulis. Tahukah kau, bahwa yang membuat orang sukses itu bukanlah kemampuan?? Tentu, aku tahu. Kemauanlah yang membuat orang sukses. Nah, kalau begini mengapa aku ujug-ujug mau memberhentikan aktivitasku untuk menulis. Seharusnya, minder jangan dijadikan sebagai alasan untuk berhenti menulis.
Seperti yang dikatakan oleh Ustadz Felix dalam ceramahnya yang berjudul Habits, kita itu bisa menguasai suatu bidang dengan otomatis. Keahlian itu bukanlah faktor genetis apalagi kesuksesan. Jika orangtua sukses yang anaknya juga sukses, maka kita memandangnya bukan dari faktor genetisnya akan tetapi langkah apa yang dilakukan orangtuanya untuk mendidik anak tersebut. Nah..lo...??
Kesimpulannya, kalau ingin jadi penulis maka aku harus memulai langkah-langkah yang dilakukan oleh penulis-penulis pada umumnya. Seperti yang telah dilakukan oleh abang Tere Lije “Menulislah 1000 kata perhari tanpa absen sekalipun maka dalam 6 bulan, maka kalian tidak membutuhkan guru siapapun untuk bisa menulis lebih baik dari siapapun”.
Kalau direnungkan, apa yang disampaikan Ust Felix dan Abang Tere Lije intinya sama. Menulis itu hanya butuh kebiasaan saja, habits lebih tepatnya. Setelah terbiasa, maka hal tersebut akan menjadi otomatis.
Nah, sekarang aku sudah tidak ada lagi alasan untuk tidak menulis. Tulislah apa yang kamu bisa tulis. Paksalah jika kamu berat untuk melakukannya. Awalnya mungkin sebuah keterpaksaan, tapi nantinya akan menjadi luar biasa jika hal tersebut sudah menjadi kebiasaan.
Sekarang saya akan berbicara tentang buku diary (buku harian). Inilah buku yang lebih banyak dimiliki oleh kaum hawa. Kalau kaum adam, ngapain???
Pernah kami panitia SDP Jurnalistik OSPEK FMIPA UNY 2012 menanyakan hal ini kepada Humas Rektorat, Pak Dedi. Saat itu beliau selesai mengisi acara untuk maba sebagai Pembicara dan kami ngobrol dengan beliau. Salah satu panitia yang biasa disapa dengan “Mbak Ika” menanyakan “Pak saya dulu suka nulis di buku harian, tapi setelah saya pikir-pikir menurut saya nulis buku harian itu tidak penting”.
Lalu beliau menjawab “Ya, begitulah kita suka meremehkan hal-hal yang kecil. Memang banyak orang yang menganggap bahwa buku harian itu tidak penting, tapi coba kita lihat dampaknya. Menulis buku diari itu sebenarnya melatih kita untuk mengarang. Jika hal itu dijadikan kebiasaan, maka untuk menulis kita kan nantinya tidak akan kaku”. Jadi hal yang kecil itu bisa menjadi sangat penting untuk mengasah kemampuan kita.
Sekelumit cerita ini telah menghabiskan 437 kata. Cerita tersebut hanya sebagai pengantar saja untuk memancing diri saya dalam memulai langkah sebagai penulis. Berhubung saya juga tidak mempunyai ide untuk menulis, jadi aku memakai saran dari Ust Felix. Intinya mengandalkan Habits saja.
“Don’t you ever be afraid, believe in you”. Yupz, jangan takut dalam keadaan apapun dan percaya pada kemampuan diri sendiri. Terkadang aku takut dalam menghadapi suatu hal dengan membayangkan suatu yang tidak-tidak. Padahal setelah aku melakukannya, ternyata aku bisa. Tahukah kau?? Senang banget rasanya. Awalnya saya menggunakan prinsip yang diberikan oleh seseorang “Biarlah raga dan waktu bekerja, yang paling sulit adalah mempertahankan azzam” sampai akhirnya aku mempunyai prinsip sendiri “Don’t be afraid and believe in you”. Tetapi prinsip dari dia tetap masih aku gunakan.
Ocehan ini juga telah mengantarku ke 599 kata. Waw.. super sekali kan.
Mungkin yang mau membaca ocehan tidak bermutu ini hanya beberapa orang saja. Itu pun yang lagi nganggur. Yang lagi sibuk mana mau?? Iya nggak?? Hmm...saya mau ngoceh lagi aah.. sampai 1000 kata. Tapi aku bingung mau ngomongin apa lagi.
“Cintamu tlah menangkan ruang hatiku”. Tahu tidak cuplikan lirik tersebut?? Yupz, itu lagu milik Mikha. Kenapa aku nulis liriknya dia? Karena aku lagi ndengerin lagu dia. Kenapa harus lagunya dia?? Emmh,,sesuai dengan perasaanku kali ya..hahaha
Sebenarnya aku ingin curhat, tapi sepertinya tidak perlu. Karena ini latihan nulis, bukan latihan curhat.
Sekarang ngomongin apalagi ya..
Karim Benzema aja deh. “huuuuuuuuuuuuuu....”
Jangan sorakin aku lah.. kan jadi sedih.. T.T
Bukan karim benzema yang istimewa, tapi orang yang telah memanggil aku dengan sebutan karim benzema. Hmm, pertama kali menyapa, dia memanggilku dengan sebutan karim benzema. Aneh nggak sih?? Bahkan dia belum pernah memanggilku dengan namaku.
Eh,,tapi belum pernah lho ada orang yang memanggilku dengan Karim Benzema. Yaa,,terkadang aku dinilai terlalu terobsesi dengan benzema. Ya memang, aku suka sekali dengan Benzema. Entah mengapa saat nonton dia bertanding, aku jadi semangat. Tapi jujur, cintaku bukan hanya sebatas ucapan. Cintaku ada di hati yang diam-diam tidak aku ungkapkan. Tahukan kau?? Siapa orang yang telah memenangkan hati ini??
Haiishh... tidak perlu diperbincangkan. Tapi yang penting ocehan tidak jelas ini telah mengantarku ke 819 kata.
Tinggal sedikit kan, kata yang haru saya tulis untuk menuju ke 1000 kata. Iya donk, jelasss. Masalahnya sudah kehabisan ide. Bagaimana donk. Hmm,,jadi ingat tugasku yang belum kelar, LKTI, Abstrak. Owh.. aku harus kejar Deadline ni.
Santai-santai, don’t be afraid Nurul. Pasti bisa, semua kan indah pada waktunya.
Ohya, kini aku akan mengungkapkan rasa kangen aku terhadap “My Baby” Ali. Kamu udah punya bayi?? Haha,,ya belum lah, itu anaknya tanteku. My Baby pokoknya, Bayiku. Hahahaha...
Anaknya lucu banget. Pipinya sangat mempesona, entah kalau pas ketemu aku berapa kali mencium pipinya. Pipinya tu proporsional, kepalanya benar-benar bulet, aku harap dia nanti bisa jadipemain bola seperti Karim Benzema, sekalian menaklukkan kora Roma bersama anak saya ya.. hehehe..
sSebentar lagi dia akan pindah ke Jogja, jadi aku bisa main kapan-kapan, bisa mencium kapan-kapan juga. Oya,,hal ini juga tidak kalah penting, aku punya guru bahasa inggris yaitu tante Arum, ibunya My Baby Ali. Jadi aku selain belajar bahasa Arab dengan Om The Rud, aku juga belajar bahasa Inggris dengan Mbak Arum. Yaah.. mungkin hanya ini yang bisa saya sampaikan. Cukup sekian dan terimakasih.

2 komentar:

  1. alhamdulillah..
    masih mending udh berani menulis walaupun minder
    nah sy??? kurang ada motivasi kali y.. hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya,,Alhamdulillah..
      kuberanikan diri,,kalau tidak kapan lagi???hehe...

      Hapus