Me and Friends

Me and Friends
FOSMAN (Forum Scientist Muda Nasional)

Selasa, 19 Agustus 2014

CERITA DI BALIK TRAVEL “D7566EJ” JURUSAN BANDUNG


Pertama kali yang kupikirkan saat duduk di travel dengan plat nomor D 7566 EJ adalah “waah.. pasti yang duduk di depanku ada anak kecil”. Saya kira wajar berpikir seperti itu. Karena di kursi paling depan ada boneka panda. Tapi, ternyata oh ternyata “uuupzzz” salah sangka. Saat mereka datang dari minimarket “seeeet…(menoleh ke arah luar travel)” kulihat siapa yang datang “aw..aw…aw…” aku pun terkejut dan sedikit merasa takut karena penampilan salah satu dari dua orang itu menyeramkan. Bayangkan saja, perempuan gendut dengan tinggi sekitar 150-an memakai celana pendek dan berbaju ketat bersama satu orang laki-laki dengan tinggi sekitar 160-an kecil dengan dandanan seperti “rockerstar”, rambut disemir pirang, dan memakai tindikan.
Aku berkata dalam hati “hmm…tidak mungkin mereka jahat, pasti mereka berpacaran”. Sesaat kemudian ada seorang perempuan membuka pintu travel bagian paling belakang. Lalu si pirang berkata “eh..bukannya kamu duduknya di nomor dua yah??”. Saat ku mendengar suaranya, “glekkk (menelan ludah),,, jadi, itu anak perempuan?? Astaga..!!!”.
Ia (si Pirang) pun membukakan pintu untuk perempuan itu. Sekilas ia melihatku dan tersenyum kepadaku, aku pun berbalik senyum kepadanya sambil berpikir “wah..ternyata dia anak baik-baik ya..”.
Setelah semua masuk, pak sopir segera membawa kami menuju Bandung dan tidak lupa untuk menjemput penumpang lainnya. Di dalam travel, si pirang itu telepooooon. . . .terus. Kalau tidak telepon, ngobrol sama pak sopir. Kelakuannya, benar-benar seperti laki-laki. Dari cara dia berbicara sampai merokok. Tapi suaranya itu lho..tetap saja perempuan, tidak bisa di ganggu gugat.
Di tengah perjalanan, kami makan malam di salah satu rumah makan Kebumen. Aku pun makan bersama teman sebelahku, mbak Diana. Beliau mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Islam Indonesia (UII), 2009. Si pirang pun makan malam bersama temannya pula. Saat berjalan dan tidak sengaja berpapasan, ia pun kembali tersenyum padaku, aku pun juga berbalik senyum.
Temannya berkata “ciee…”
Si Pirang membalas “Udahlah…nggak usah rempong !!”
Mendengar itu semua, langsung terlintas dalam benakku “Apaaa??? Jangan-jangan aku dikira suka sama si Pirang?? Haduuuh…maaf yaa… aku tahu kalau dia tu perempuan”.
Setelah makan malam, kami pun segera melanjutkan perjalanan. Dari sebelum masuk travel, dan sesudahnya si Pirang masiiiih saja telepon. Aku sampai berpikir “Ini anak telepon melulu, emank ngomongin apa sih??”
Teman si Pirang berkata “Kamu ribut sama pacar kamu ya??”
Si Pirang tidak menjawab, ia tetap melanjutkan percakapannya. Dalam obrolannya itu ia sering mengucapkan kata “sayang”. Aku pun geli mendengarnya, anak tomboy seperti dia, memanggil pacarnya dengan sebutan “sayang”. Tapi, entah kenapa aku jadi curiga. Setelah ku mendengar suara orang di balik telepon tersebut, “Astagaaaa !!! Itu suara perempuan !!! Jadi. . . .pacarnya itu perempuan???”, “wah, pacarnya tahu nggak ya, kalau dia itu juga perempuan?? Kalau tidak tahu, kasian donk.
Aku kembali mendengarkan dialognya. Ternyata permasalahannya adalah “selingkuh”, karena si Pirang sering mengucapkan kata-kata itu “Wah. . . si Pirang dituduh selingkuh”.
Sampai ke puncak permasalahan si Pirang berkata “Yank, aku tu nggak selingkuh. Aku tu masih sayang sama kamu”.
“Nggak, aku nggak percaya. Lah, kamu ngapain telpon-telponan sama si Ayu??”kata pacar Pirang
“Enggak yank. Dengar ya!! Besok kalau aku masih kembali ke Jogja, berarti aku masih sayang sama kamu.”kata Si Pirang
Selanjutnya, aku tidak tahu apa yang dikatakan pacarnya. Lalu si Pirang menjawab “Kamu kok nuduh aku selingkuh terus? Yasudah, kalau kamu nuduh seperti itu jangan salahkan aku kalau nanti benar-benar selingkuh. (sambil memotong pembicaraan) Benar ya..jangan salahkan aku kalau nanti beneran selingkuh..”
è “Waduuuh…berarti kalau si Pirang selingkuh, selingkuhnya sama perempuan. Emank ada yang mau ya??”
Dialog pun tetap berlanjut. Si Pirang kembali berkata “Apa hubungan kita mau disudahi saja sampai disini???”.
è Waduuuh..dia mau putus???
Tanpa ku tahu apa yang dikatakan oleh pacar si pirang, ia pun tiba-tiba berkata “Apapun itu. . . apapun akan aku buktikan ke kamu”.
è Apa??? Apapun akan dibuktikan??
è Waaah…kalau dia minta bukti kalau kamu laki-laki bagaimana?? Hmm,, kalau tidak terbukti, pasti nanti pacarnya shock…

Setelah sampai di tempat tujuan, aku menceritakan hal itu kepada saudaraku. Sampai-sampai, berpikiran yang macem-macam. “pacarnya tahu gak yaa, kalau dia perempuan atau jangan-jangan dia sudah tahu dan memang saling suka??”, “kalau misal dia tinggal di Jogja, dia kostnya di kost pria atau wanita ya?? Penampilannya kan pria, tapi. . . dia tetap wanita”. #hadeeeehh….

Minggu, 17 Agustus 2014

Sekedar Meluapkan Rekam Pikirku Terhadap Pertanian

Dulu, aku pernah protes saat banyak menjumpai daerah sekitar rumahku yang lahan-lahan pertanian dijual dan didirikan perumahan-perumahan. Pernah berkata demikian “apa mereka tidak berpikir, kalau lahan-lahan pertanian dijual lalu didirikan perumahan maka daerah resapan airnya akan berkurang dan produksi pangan menurun.” Disamping itu, aku juga tidak peduli dengan pertanian. Pernah bertanya pada salah seorang temanku tentang cita-citanya dan ia menjawab menjadi seorang petani seperti ayah dan ibunya. Selanjutnya aku menjawab “ha? Jadi petani? Cuma nanam padi doank di sawah. Kalau kena hama, nanti rugi. Lebih aman jadi PNS, dapat gaji.”

Sampai saat ini, aku masih banyak menjumpai orang-orang yang protes dengan lahan-lahan pertanian yang saat ini didirikan perumahan terlebih dikalangan anak muda. Sebagai contoh kelasku pada saat kuliah Ilmu Lingkungan. Sebagai mahasiswa tentu harus kritis dengan keadaan lingkungan. Waw, pada saat diskusi sungguh teman-teman sangat kritis tentang hal tersebut. Mereka mengerti bagaimana tatacara pembangunan berkelanjutan. Mereka juga memahami permasalahan-permasalahan yang terjadi di Indonesia hingga cara penyelesaiannya. Tidak tanggung-tanggung, sampai memberi saran pada Pemerintah dengan mengatakan “Seharusnya Pemerintah.......”

Itulah keadaan kelasku. Disini, saya berpikir “Diskusi ini untuk apa?” kalau hanya sekedar mengkritisi, apakah berguna untuk membangun bangsa? Sedangkan masukan-masukan untuk membangun negeri hanya terkunci dikelas tersebut.

Oya, aku tinggal di suatu perumahan daerah Kalasan Sleman Yogyakarta. Perumahan tersebut adalah bekas perkebunan tebu. Aku mengira, dahulu disana luas sekali akan perkebunan tebunya. Pernah bertanya-tanya masalah tebu. Dari sini kudapatkan info bahwa perkebunan tebu itu risiko kegagalannya relatif tinggi. Karena, tebu masa tanamnya mencapai 1 tahun. Kalau daerah sekitar rumahku, pengairannya hanya mengandalkan hujan. Mungkin ini targetku selanjutnya setelah bertani padi. Hmm kira-kira petualangan apa lagi ya? hahaha

Kembali ke topik pembicaraan. Walau dari awal belum kutentukan topik pembicaraan, namun telah kutuliskan tentang lahan pertanian yang dijual. Yah, kini kumengerti pentingnya pertanian bagi kehidupan makhluk di dunia ini, terutama bagi manusia.

Mengapa banyak lahan pertanian Indonesia yang dijual oleh para petani?

Jika anda termasuk orang yang mempertanyakan tentang hal ini dan merupakan orang yang protes kepada para petani yang menjual lahannya, STOP! Jangan dulu menyalahkan petani, namun cari dulu penyebabnya. Dari sosialisasi yang kudapatkan, petani banyak yang menjual lahan pertaniannya disebabkan karena rugi. Ya, R-U-G-I. Anggapan kebanyakan orang memang benar bahwa “Petani itu untung-untungan”. Kadang untung, kadang rugi. Jika rugi lebih sering dialami petani daripada untung, kukira wajar kalau petani banyak yang menjual lahannya. Setelah menjual lahannya, mencari pekerjaan lain yang mungkin akan memberikan gaji yang lebih tinggi. Dengan gaji yang lebih tinggi, maka kesejahteraan akan meningkat. Lantas, apakah petani tidak memikirkan masyarakat Indonesia yang sebagian besar mengonsumsi beras sebagai makanan pokok? Mungkin, lebih baik jika pertanyaannya dibalik. Apakah masyarakat dan pemerintah memikirkan kesejahteraan petani? Nah, adil bukan?

Dapat dikatakan bahwa petani itu butuh dampingan. Mengapa demikian? Petani telah ahli dalam kegiatan di lahan pertanian. Oleh karena itu, petani didampingi dalam segi keilmuannya. Sedikit bercerita tentang pendampingan pertanian di desa Nomporejo, Galur, Kulon Progo.

Petani di desa Nomporejo sangat antusias dalam menyambut orang yang datang untuk memberikan ilmu pertanian. Dulu pernah dari BP3K (Balai Penyuluhan Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan) mendatangi desa tersebut untuk memberikan Penyuluhan. Namun, terdapat keluhan dari para petani, karena setelah diberi penyuluhan tidak ada tindak lanjut dari pihak BP3K. Nah, hal itu berarti Petani sangat membutuhkan ilmu dan pendampingan secara berkelanjutan untuk meningkatkan produktivitas pertanian.

Dari keluhan tersebut, TIM Healthy Field Increase My Rice menuai gagasan untuk memberikan pendampingan pertanian pada masyarakat desa Nomporejo. Selain antusiasme dari masyarakat petani, latar belakang dari program pendampingan ini yaitu petani desa Nomporejo belum menerapkan pengelolaan lahan secara biologis (melalui mikroba). Ya, memang jarang sekali dari kalangan petani yang mengelola lahannya secara biologis. Padahal, tanah yang sehat adalah tanah yang seimbang antara aspek kimia, fisika, dan biologi. Hal yang sering dilakukan oleh petani yaitu pengelolaan lahan secara kimia dan fisika. Secara kimia, petani biasa menggunakan pupuk untuk membuat tanaman agar penampilannya lebih bagus. Mengapa aku berkata demikian? Misalnya saja pupuk urea. Pupuk yang diprimadonakan oleh petani ini menyebabkan daun menjadi hijau terang (tidak alami). Petani suka dengan ini dengan anggapan bahwa hijaunya daun padi menandakan kesuburan tanaman. Begitu juga dengan tikus. Binatang ini, sangat tertarik dengan warna hijau daun padi. Hmm, apalagi setelah hewan ini mendatangi tanamannya, batangnya empuk. Wah, pastinya tikus-tikus pada menikmatinya. Secara fisika, petani biasanya melakukan pembajakan atau drainase. Hal ini dilakukan untuk menggemburkan tanah.

Kalau kesuburan tanah harus memperhatikan 3 aspek yaitu secara kimia, fisika, dan biologi berarti pengelolaannya pun harus dengan memperhatikan antara 3 aspek tersebut. Jika tidak, maka keadaannya tidak akan seimbang. Banyak sekali kasus yang ditemukan terkait dengan tanaman padi. Adanya serangan hama tikus, wereng, dan keong mas. Hama bukanlah bala dari Tuhan, seperti yang diketahui oleh kebanyakan orang. Namun, hama datang karena kesalahan pengelolaan lahan. Telah diterangkan pada paragraf sebelumnya bahwa hama tikus karena tertarik dengan warna daun hijau terang dan batang yang empuk. Hama wereng, datang karena adanya bau busuk. Bau busuk disebabkan oleh apa? ada dua kemungkinan yang menyebabkan bau busuk pada batang atau akar tanaman padi. Kemungkinan pertama disebabkan oleh terendamnya batang padi yang dalam waktu lama akan menyebabkan bau busuk. Mengapa terendam? Hal ini disebabkan oleh tanah yang bantat. Hal ini menyebabkan air tidak dapat terserap dalam tanah dan akhirnya akan menggenangi batang padi. Kemungkinan kedua disebabkan dengan penyemprotan pupuk cair yang salah. Penyemprotan seharusnya dilakukan dengan sistem U. Penyemprotan, harus dari bawah daun (kalau bisa, masuk melalui stomata). Mengapa tidak dari atas daun yang banyak dilakukan oleh kebanyakan petani? Kalau dari atas daun, pupuk cair kemungkinan besar akan mengalir ke pangkal daun (bukan masuk ke dalam tanah untuk diserap oleh akar). Lama-lama akan menyebabkan kebusukan pada tanaman tersebut. Hama keong mas, datang karena saat ini sudah sangat jarang ada tanaman pisang yang di pinggir lahan persawahan. Dengan kata lain, jika ada tanaman pisang maka hama keong mas akan berkumpul mendatangi debog pisang.

Kasus selanjutnya yaitu terjadinya penurunan produktivitas karena banyaknya bulir padi yang kosong. Hal ini disebabkan oleh adanya hama yang menyerap nitrogen (N) pada tanaman. Penyebab yang lainnya adalah kurangnya nutrisi pada tanah dan dekomposer yang merombak bahan organik menjadi bahan anorganik. Hal ini juga disebabkan oleh pemberian pupuk kimia yang berlebihan. Pemberian yang berlebihan ini menyebabkan binatang-binatang bermanfaat pada tanah menangis dan akhirnya mati. Akibatnya berimbas pada ketersediaan nutrisi pada tanah.

Dari kasus yang ada, tentu tidak sepenuhnya petani bersalah. Justru kita yang seharusnya berjuang. Belajar dan terus belajar. Menguasai ilmu pertanian, dan mentransfer ilmu tersebut kepada para petani sekaligus belajar untuk diri kita sendiri. Belajar di lapangan dan merasakan bagaimana perjuangan petani untuk menghasilkan satu butir beras. Belajar bersosialisasi di tengah-tengah masyarakat. Belajar mencintai bangsa Indonesia, agar tidak selamanya kita terjajah.

Semangat dan tetap semangat. Lelah itu pasti, namun senyum petani itu lebih berarti. Berarti untuk Indonesia dalam mewujudkan yang Negara yang Berdikari. Berarti untuk kita semua. Tersenyumlah ^_^ kita pasti bisa !

Kau berbakti untuk negeri
Tak kau hiraukan panas terik matahari
Perjuanganmu untuk bangsa ini
Wahai Petani

Kaulah pahlawan yang tak dikenal
Namun kau tetap semangat untuk berjuang
Jasamu sungguh luar biasa

Untuk Indonesia tercinta

14 Agustus 2014 (09.24)
ttd
@NurulMustafaa

Jumat, 15 Agustus 2014

Tulisan 11 April 2013

Kita hidup dibawah satu naungan matahari. Ia senantiasa menghangatkan kita dalam segala keadaan. Saat kita ditinggalkan, ada bulan yang menggantikannya. Ia bernyanyi, bersenandung menina bobokan kita dan mengantarkan sampai ke dunia mimpi. Bintang pun mengiringi dengan tarian indahnya. Mengapa?? Mengapa kita harus bertengkar dengan perbedaan yang kita miliki?? Kita sama-sama hidup di dalam anugerah-Nya, kita sama-sama hidup di dalam lindungan-Nya, dan kita hidup di dalam tempat yang sama.
Bumi. Ya, tempat kita berpijak. Ia tidak pernah mengeluh, berapa berat beban yang harus ia tampung. Bahkan kita tidak pernah tahu bahwa bumi selalu menangis karena ulah yang kita lakukan. Kita tidak pernah sadar bahwa kita selalu melukainya. Menebang pohon seenaknya, menangkap ikan dengan leluasanya, mencemari habitat makhluk lain, tanpa kita memikirkan nasib mereka. Kita hanya memikirkan diri kita sendiri. Seharusnya kita tahu, bahwa langkah itu akan berdampak pada diri kita.
Kini aku melangkah, menelusuri dunia yang masih kelam. Kudengar canda tawa anak-anak yang berbahagia bersama orangtuanya. Kicauan burung pun membersamainya. Kurasakan betapa nyamannya tempat ini yang jauh dari keramaian. Kuhirup udara sejuk disertai tiupan angin sepoi-sepoi yang membisikkanku dengan teramat sangat ramah.
Semakin lama aku melangkah kurasakan semakin kerasnya jalan yang kutapaki ini. Dunia ini tidak lagi sepi. Semakin banyak kata yang belum ada dalam kamus nervosumku. Banyak suara klakson yang mengiringi perjalananku. Terkadang kudengar teriakan yang selanjutnya akan disusul dengan suara ambulan. Terkadang ada suara tangisan bayi. Oh..betapa pedihnya hati ini, saat ku tahu itu anak yang dibuang. Yaah..bayi..bayi, aku tak bisa membayangkan jika aku yang telah berumur dua puluh tahun berada di dalam penampung barang yang sudah tidak dibutuhkan lagi.
Aku kembali melangkah, entah mau kemana kedua kakiku ini akan menuju. Dalam perjalanan ini, semakin banyak hal-hal aneh yang aku temui. Semakin jauh, semakin aku tidak mengerti. Ku ingin terus menelusuri ruang ini entah sampai kapan aku akan puas dengan apa yang aku rasakan....... 

Selasa, 29 Juli 2014

Pertanian Dulu dan Sekarang

Dulu hanya bisa photo-photo doank, sekarang bertani beneran.

Disela-sela kesibukanku mengerjakan Analisis Usahatani “cieeeee, yang sibuk” inginku menulis, menceritakan apa yang ada dipikiranku saat ini. Kalau mengingat aku yang dulu, sebenarnya pada saat SMP sudah tertarik di bidang pertanian. Namun, tanpa alasan.
Aku pernah meminta temanku yang orangtuanya bekerja sebagai petani “eh, kalau menanam padi aku mbok di ajak”.
Lalu temanku berkata “Ya. Tapi di tanahnya banyak cacingnya lho.”
“Iya po?”tanyaku dengan semangat yang memudar
“Iya, kalau kamu masuk ke tanahnya, nanti cacing tanahnya menggulat-nggulat kakimu.”kata temanku meyakinkan
Arrg, sudah deh. Sudah tak berminat lagi ke pertanian. Kalau permasalahan sudah menjurus ke cacing, bye bye. Hmm.. namun aku senang sekali dengan suasana di persawahan. Pemandangannya bagus. Apalagi pemandangannya itu padi. Wow, kereeeeen.
Hmm, dibalik kerennya persawahan, apa yang anda pikirkan? Ada yang berpikir, siapa yang menanam? Yang lebih sering dijumpai aja deh, pada saat makan. Pernahkah anda berpikir, seberapa besar pengorbanan orang yang menanam padi? Perlu anda ketahui, bahwa petani menanam padi penuh dengan pengorbanan. Panas terik matahari mereka hiraukan. Bayangkan saja, masa tanamnya 4 bulan coyy. 4 bulan hanya untuk merawat tanaman padi lalu nasi-nya anda sia-sia kan begitu saja? Ingat ya, satu butir nasi dipertanggungjawabkan.
Tahun 2013, spesial banget. Aku kenal dengan seseorang yang luar biasa. Beliau mengajakku mengikuti sosialisasi tentang pertanian. Waaah, pendorong semangat banget buat aku. Mau tau orang yang mengisi sosialisasi tersebut? Beliau adalah salah seorang anggota dari PBB bagian FAO. Singkat saja, disini kami dijejeli segalanya tentang pertanian. Beliau menerangkan bahwa tanah di Indonesia adalah tanah tersubur se jagad raya, itu catatan dari PBB lho ya. Pertanyaannya, mengapa Indonesia masih import beras? Lho? Hubungannya? Jadi, lahan untuk pertanian di Indonesia cukup luas. Petani padi, banyak kog. Kalau lahan dan petani Indonesia dioptimalkan, kebutuhan Indonesia tercukupi kog. Tidak perlu import beras, kalau perlu kita yang eksport ke seluruh negara di dunia. Petani itukan untung-untungan? Stop ! don’t say like that ! sekarang motto kita “Petani Itu Harus Untung”.
Ya, tadi sudah dikatakan bahwa lahan Indonesia adalah lahan tersubur di jagad raya. Sekarang, mari kita intip surat Al-A’raaf (7) ayat 58. Nah, disini diterangkan bahwa “Dan dari tanah yang subur dihasilkan tetanaman yang produktif dengan izin Allah, dan dari tanah yang tidak subur tidak dihasilkan kecuali dengan payah.” Sudah jelas kan? Bahwa bagus tidaknya tanaman, semua berasal dari faktor tanah. Jadi, kalau masih ada tanaman yang tidak produktif (gagal panen), banyak hama, perlu dicurigai tanahnya.
Permasalahannya sekarang, banyak yang belum mengerti pentingnya tanah. Banyak kasus, petani yang berlebihan menggunakan pupuk kimia. Yaaah, wajar saja kalau lama-kelamaan lahannya kritis (jenuh dengan pupuk kimia). Tanah jadi alot, hewan-hewan bermanfaat pada mati. Yuuk, anak-anak muda tolong kesadarannya. Belajar mengenai pertanian, supaya bisa menjadi pendamping-pendamping petani yang handal. Seperti kata Bapak Penyuluh “Petani itu butuh dampingan”. Jadi, kita sebagai konseptor, petani bagian lapangan. Walaupun bagaimanapun, petani lebih berpengalaman dan lebih paham dengan keadaan lapangan.
Dari sosialisasi ini, beranjak ke penulisan karya tulis. Alhamdulillah, bisa jalan-jalan ke Universitas Indonesia untuk mengikuti Konferensi Ilmuan Muda Indonesia. Ihiiiy, banyak kenalan niiih. Yup, aku bertemu dengan orang-orang hebat, pinter-pinter, dan super-super. Jalan-jalan juga ke Bogor. Asyiik pokoknya...
2014, terjun beneran. Praktik mendampingi petani desa Nomporejo, Galur, Kulon Progo. Ini wujud nyata lho ya. Disini benar-benar terjun. Belajar berkomunikasi dengan petani. Menyampaikan ilmu dengan bahasa petani yang tentunya, “itu tidak mudah”. Konsep yang kami angkat yaitu Healthy Field Increase My Rice. So, Lahan yang sehat, produktivitas beras meningkat. Kami (Tim) mendampingi petani mengelola lahan secara biologis dengan mikroba bermanfaat. Ada tiga pendampingan, pengecekan pH, penambahan C-Organik, dan penambahan mikroba.
Hmm, merasakan bagaimana panasnya persawahan di siang hari. Merasakan masuk ke becek-nya lahan. Hihihi, tidak ada cacing tuch! Cacingnya takut sama aku, jadi nggak nongol.
Mimpiku, ingin mendirikan PT. Pertanian Dahsyat HFIMR. Jadi, Perusahaan ini akan membentuk kader-kader pendamping petani yang handal dan juga akan memproduksi beras dalam kemasan. Berasnya bukan beras biasa. Beras yang istimewa pokoknya. #aamiin


Kalasan, 29 Juli 2014
14.20 WIB

Ttd


@NurulMustafaa

Selasa, 22 Juli 2014

Aku dan #KKN-PPL

Tak pernah ini kubayangkan akan terjadi di hidup ini
Namun kini jelas ada dan terbukti kuberubah
Aku syukuri segala nikmat ini
Tak semua mendapatkannya
Tuhan telah buka kan jalan untukku
‘kan ku jaga bahagia ini

Alhamdulillah, Segala puji bagi Allah yang tiada henti-hentinya memberikan nikmat kepada kita. Sungguh, tak menyangka sebelumnya. Aku, bukanlah Nurul yang dulu. Aku bukanlah Nurul yang seringkali diremehkan. Aku bukanlah Nurul yang tak bisa berbuat apa-apa. Aku bukanlah Nurul yang tak berani berhadapan dengan orang banyak. Aku bukanlah Nurul yang tidak memiliki teman karena tidak memiliki keahlian. Ya, Nurul sekarang sudah berubah.
Hah, tak perlu mengingat yang dulu. Yang terpenting adalah bagaimana aku bersikap untuk move on. Bagaimana caranya? Menghapus masa lalu, merubah masa kini, dan menata masa depan. Masa lalu, biarlah itu menjadi guru terbaikku. Merubah masa kini untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Menyusun langkah demi langkah yang akan kutempuh untuk mencapai tujuan hidup (bahagia dunia dan akhirat).
Sering ku kagum dengan kakak-kakak angkatan yang keren, entah dalam penelitiannya maupun dalam hal public speaking-nya. Saat MaBa dan menjadi pengurus baru Ksi Mist, aku sangat kagum dengan mas Firman Nugroho. Saat Up Grading, beliau memberi motivasi pada kami para pengurus. Di situ aku berpikir, suatu saat nanti aku akan seperti beliau. Dulu aku juga pernah berpikir akan mengikuti jejak mbak Ling-ling. Hahaha LOL #PikiranMaba
Tak terasa waktu berjalan begitu cepat. 6 semester sudah kulewati. Di semester khusus saatnya KKN-PPL. Aku pun siap berpetualang.
Aku mau bercerita tentang kisahku sendiri. KKN-PPL yang insyaaAllah menyenangkan. Hem, saat saat aku lagi butuh-butuhnya semangat, eitz orang yang selalu menyemangatiku menghilang entah kemana. Mau ke Jerman, eh hampir lupa sama aku. Haha, harap maklum lah. Aku sih tidak masalah, sudah tau wataknya sih. Mungkin suatu saat nanti aku yang akan melewati fase-fase itu.
Salah satu kegiatan di tempat KKN adalah mengajar TPA. Hem, setelah bertahun-tahun tidak mengajar TPA “lebay” kini aku kembali lagi terjun ke salah satu kegiatan favoritku. Disini aku menyimpan banyak pertanyaan. Yaah, aku mengenal kondisi 2 TPA. Terutama kondisi santri dan guru. Perbedaan yang sungguh signifikan. Mungkin hal ini akan aku bahas di lain kesempatan. Yup yup yup.
Sekarang aku bercerita tentang pengalaman PPL di SMA N 1 Prambanan. Disini aku belajar banyak hal. Semuanya saja, tidak hanya PPL namun juga KKN. Feeling excited saat PPL 2014 diberi kepercayaan oleh Waka Kurikulum sekaligus guru pembimbing PPL untuk memberikan Stimulus Motivation. Saat kumengetahui hal itu rasanya senang sekali dan dipikiranku hanyalah “Aku harus mengambil kesempatan ini, aku harus belajar menjadi pembicara mulai dari kesempatan ini sebelum ku menemui masa yang lebih banyak dengan tuntutan materi yang lebih “wow” juga”.
Bingung mau membuat materi yang seperti apa. Niatnya hari senin sudah beres, lanjut belajar ngomong. Hmm, dalam praktiknya, lagi-lagi waktu yang  harus memaksaku untuk membuatnya. Artinya, harus kepepet dulu baru bisa. Malamnya aku ngisi materi, siangnya baru buat materinya. Baru sekitar jam 17.00 WIB selesai, oke fix. Akupun tidak langsung belajar berbicara, namun membantu menyiapkan keperluan berbuka puasa terlebih dahulu. Ba’da magrib, kubaca Al-Qur’an supaya tenang. Sampai ba’da isya, huaaah semakin deg-deg-an saja. Jantung berdetak lebih kencang. Pukul 19.30 WIB disaat Ceramah, kuambil laptop. Langsung saja buka PPT materi stimulus motivation, belajar ngomong kilat. Yaaah, yang penting paham alurnya. Masalah ngomong urusan nanti saja. hemm, hanya sekitar 17 menit aku belajar alur dari materi yang telah kubuat. Setelah itu menunggu beberapa menit untuk dipanggil, “mbak-mbak PPL”. Untungnya, pak Guru Agama (Pak Ansori) hafal namaku dan berkata “Silakan Mbak Nurul” ahihihi.
Maju dengan penuh percaya diri. Sebelum maju, ada sedikit rasa takut. Kucoba untuk menyembunyikannya. Tersenyum, hahaha pura-pura tidak ada ketakutan sedikit pun di depan teman-teman dan para siswa. Yaah, begitulah, terkadang ada rasa gengsi yang melekat pada diriku.
Begini, aku pernah mengalaminya. Jadi, aku bisa memberikan tips supaya tidak grogi saat memberi materi atau berbicara di depan orang banyak. Hahahaha
Yang aku lakukan, pada saat teman-teman menyiapkan segala keperluan entah itu LCD, proyektor, Laptop, dan segala macamnya, langsung kuambil Microphone-nya. Mengucapkan salam dan mengajak berbicara peserta. Perkenalan, untuk menghabiskan waktu sambil persiapan. Pokoknya sebisa mungkin menghipnotis peserta agar mereka tidak merasa dianggurkan. Mengajak berbicara peserta sebelum memberikan materi, terbukti mengurangi rasa tegang. #serius aku nggak bo’ong :P
Tips selanjutnya, emm apa ya. Sering-sering saja berhadapan dengan orang banyak. Sambutan, memimpin rapat, atau apapun deh. Hal itu akan menambah rasa percaya diri. Nah, organisasi juga akan mengajarkan tentang banyak hal. Apalagi kalau dihayati. Jadi, Organisasi adalah kuliah yang paling mahal.
Tips lagi nih, pahami materinya, pahami alurnya, dan harus hafal dengan slide yang telah dibuat. Jadi, terlihat keren. Hahahaha (aku belum keren kog, masih harus banyak belajar).
Rabu, 16 Juli 2014 yaaah, menjadi sejarah untukku. Aku berhasil menjadi pemateri dalam pesantren SMA N 1 Prambanan. Menjadi pemateri untuk pertama kalinya. Suatu saat nanti aku akan menjadi pembicara dengan masa yang lebih banyak. I can do more, I believe it.

Prambanan, 22 Juli 2014
(09.13 WIB)
Ttd

@NurulMustafaa

Jumat, 18 Juli 2014

Mimpi Itu Akan Segera Terwujud

Langkah demi langkah mimpi-mimpi yang telah kutuliskan insyaaAllah akan tercapai. Aku tak pernah menyangka sebelumnya. Semua berjalan begitu mudah. Especially about agriculture. Aku tak pernah menyangka, sungguh tak menyangka, Allah mengirimkan seseorang yang luar biasa untukku. Huh, hampir tak bisa berkata saat orang tersebut akan mentransfer semua ilmu tentang pertaniannya kepadaku. Mau tertawa, mau nangis, atau mau apa? saat itu yang aku lakukan hanyalah berteriak, tertawa, memeluk orang yang ada di depanku “tanteku”. Dalam hati “Alhamdulillah Ya Allah, aku ingin menangis. Ya Allah, Pertanian Dahsyat akan segera terwujud Ya Allah. Ya Allah... Ya Allah.... Ya Allah...
Aku merasa malu. Allah selalu memberikan apapun kepadaku. Namun, ibadahku sangatlah kurang. Malu.. malu.. malu....
Aku teringat dengan perjuanganku mencari dosen-dosen ahli tanah dan tanaman. Mulai dari anak pertanian UGM dan dia merekomendasikan dosen untukku. Hmm..sampai sekarang masih belum berani utnuk menghubungi beliau. mau berkenalan dengan pemonev eksternal yang juga dosen fakultas pertanian. Beliau ahli agribisnis dan agritech. Hmm.. namun aku tak mau dikira seperti merayu pemonev agar dimasukkan ke PIMNAS dan juga tak mau mengganggu pemonev yang lagi sibuk-sibuknya memonev para mahasiswa-mahasiswa luar biasa.
Tak menyangka, hanya selang beberapa hari aku mendapatkan apa yang aku butuhkan. Pertanian Dahsyat akan segera terwujud. Petani Indoneia sejahtera. Indonesia siap untuk eksport beras ke seluruh dunia. Rakyat indonesia sejahtera.
Aaaahhh....belum bisa mengungkapkan seluruh isi hati. Begitu banyak mimpi. Begitu banyak anugerah dan petualangan. Dan 2014 #emas
Disini aku belajar, bahwa Allah akan memberikan sesuatu hal pada saat yang tepat.

Minggu, 13 Juli 2014

Sebuah Ungkapan Hati

Dari awal, aku tak mengira dirimu sehebat ini. Yaah, ku akui kamu keren. Saat ku tahu hal itu, terbesit dalam pikiranku, bagaimana cara kamu meraihnya? Seberapa besar perjuanganmu untuk meraih impian itu? Hmm, bukan tanpa alasan aku mengajakmu berkenalan. Alasanku hanya satu, kau mempunyai keahlian di bidang yang ingin aku geluti.
Senang sekali berkenalan denganmu. Kau begitu welcome, ramah, dan tentunya tidak sombong. Kau bercerita, aku pun demikian. Sampai saat ini, hanya sedikit cerita yang kudapatkan darimu.  Ingin sekali mendengar cerita yang lebih tentangmu, tentang perjuanganmu untuk go Internasional.
Kini, kau tanpa kabar. Sering kubertanya, kau dimana? Huuh, aku merasa kehilangan seorang teman. Sedih, iya. Namun aku tak mau larut dalam kesedihan. Masih banyak orang-orang luar biasa yang tentunya menginspirasi.

Sampai jumpa orang hebat. Semoga suatu saat nanti kita dapat bertemu kembali...