Me and Friends

Me and Friends
FOSMAN (Forum Scientist Muda Nasional)

Minggu, 17 Agustus 2014

Sekedar Meluapkan Rekam Pikirku Terhadap Pertanian

Dulu, aku pernah protes saat banyak menjumpai daerah sekitar rumahku yang lahan-lahan pertanian dijual dan didirikan perumahan-perumahan. Pernah berkata demikian “apa mereka tidak berpikir, kalau lahan-lahan pertanian dijual lalu didirikan perumahan maka daerah resapan airnya akan berkurang dan produksi pangan menurun.” Disamping itu, aku juga tidak peduli dengan pertanian. Pernah bertanya pada salah seorang temanku tentang cita-citanya dan ia menjawab menjadi seorang petani seperti ayah dan ibunya. Selanjutnya aku menjawab “ha? Jadi petani? Cuma nanam padi doank di sawah. Kalau kena hama, nanti rugi. Lebih aman jadi PNS, dapat gaji.”

Sampai saat ini, aku masih banyak menjumpai orang-orang yang protes dengan lahan-lahan pertanian yang saat ini didirikan perumahan terlebih dikalangan anak muda. Sebagai contoh kelasku pada saat kuliah Ilmu Lingkungan. Sebagai mahasiswa tentu harus kritis dengan keadaan lingkungan. Waw, pada saat diskusi sungguh teman-teman sangat kritis tentang hal tersebut. Mereka mengerti bagaimana tatacara pembangunan berkelanjutan. Mereka juga memahami permasalahan-permasalahan yang terjadi di Indonesia hingga cara penyelesaiannya. Tidak tanggung-tanggung, sampai memberi saran pada Pemerintah dengan mengatakan “Seharusnya Pemerintah.......”

Itulah keadaan kelasku. Disini, saya berpikir “Diskusi ini untuk apa?” kalau hanya sekedar mengkritisi, apakah berguna untuk membangun bangsa? Sedangkan masukan-masukan untuk membangun negeri hanya terkunci dikelas tersebut.

Oya, aku tinggal di suatu perumahan daerah Kalasan Sleman Yogyakarta. Perumahan tersebut adalah bekas perkebunan tebu. Aku mengira, dahulu disana luas sekali akan perkebunan tebunya. Pernah bertanya-tanya masalah tebu. Dari sini kudapatkan info bahwa perkebunan tebu itu risiko kegagalannya relatif tinggi. Karena, tebu masa tanamnya mencapai 1 tahun. Kalau daerah sekitar rumahku, pengairannya hanya mengandalkan hujan. Mungkin ini targetku selanjutnya setelah bertani padi. Hmm kira-kira petualangan apa lagi ya? hahaha

Kembali ke topik pembicaraan. Walau dari awal belum kutentukan topik pembicaraan, namun telah kutuliskan tentang lahan pertanian yang dijual. Yah, kini kumengerti pentingnya pertanian bagi kehidupan makhluk di dunia ini, terutama bagi manusia.

Mengapa banyak lahan pertanian Indonesia yang dijual oleh para petani?

Jika anda termasuk orang yang mempertanyakan tentang hal ini dan merupakan orang yang protes kepada para petani yang menjual lahannya, STOP! Jangan dulu menyalahkan petani, namun cari dulu penyebabnya. Dari sosialisasi yang kudapatkan, petani banyak yang menjual lahan pertaniannya disebabkan karena rugi. Ya, R-U-G-I. Anggapan kebanyakan orang memang benar bahwa “Petani itu untung-untungan”. Kadang untung, kadang rugi. Jika rugi lebih sering dialami petani daripada untung, kukira wajar kalau petani banyak yang menjual lahannya. Setelah menjual lahannya, mencari pekerjaan lain yang mungkin akan memberikan gaji yang lebih tinggi. Dengan gaji yang lebih tinggi, maka kesejahteraan akan meningkat. Lantas, apakah petani tidak memikirkan masyarakat Indonesia yang sebagian besar mengonsumsi beras sebagai makanan pokok? Mungkin, lebih baik jika pertanyaannya dibalik. Apakah masyarakat dan pemerintah memikirkan kesejahteraan petani? Nah, adil bukan?

Dapat dikatakan bahwa petani itu butuh dampingan. Mengapa demikian? Petani telah ahli dalam kegiatan di lahan pertanian. Oleh karena itu, petani didampingi dalam segi keilmuannya. Sedikit bercerita tentang pendampingan pertanian di desa Nomporejo, Galur, Kulon Progo.

Petani di desa Nomporejo sangat antusias dalam menyambut orang yang datang untuk memberikan ilmu pertanian. Dulu pernah dari BP3K (Balai Penyuluhan Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan) mendatangi desa tersebut untuk memberikan Penyuluhan. Namun, terdapat keluhan dari para petani, karena setelah diberi penyuluhan tidak ada tindak lanjut dari pihak BP3K. Nah, hal itu berarti Petani sangat membutuhkan ilmu dan pendampingan secara berkelanjutan untuk meningkatkan produktivitas pertanian.

Dari keluhan tersebut, TIM Healthy Field Increase My Rice menuai gagasan untuk memberikan pendampingan pertanian pada masyarakat desa Nomporejo. Selain antusiasme dari masyarakat petani, latar belakang dari program pendampingan ini yaitu petani desa Nomporejo belum menerapkan pengelolaan lahan secara biologis (melalui mikroba). Ya, memang jarang sekali dari kalangan petani yang mengelola lahannya secara biologis. Padahal, tanah yang sehat adalah tanah yang seimbang antara aspek kimia, fisika, dan biologi. Hal yang sering dilakukan oleh petani yaitu pengelolaan lahan secara kimia dan fisika. Secara kimia, petani biasa menggunakan pupuk untuk membuat tanaman agar penampilannya lebih bagus. Mengapa aku berkata demikian? Misalnya saja pupuk urea. Pupuk yang diprimadonakan oleh petani ini menyebabkan daun menjadi hijau terang (tidak alami). Petani suka dengan ini dengan anggapan bahwa hijaunya daun padi menandakan kesuburan tanaman. Begitu juga dengan tikus. Binatang ini, sangat tertarik dengan warna hijau daun padi. Hmm, apalagi setelah hewan ini mendatangi tanamannya, batangnya empuk. Wah, pastinya tikus-tikus pada menikmatinya. Secara fisika, petani biasanya melakukan pembajakan atau drainase. Hal ini dilakukan untuk menggemburkan tanah.

Kalau kesuburan tanah harus memperhatikan 3 aspek yaitu secara kimia, fisika, dan biologi berarti pengelolaannya pun harus dengan memperhatikan antara 3 aspek tersebut. Jika tidak, maka keadaannya tidak akan seimbang. Banyak sekali kasus yang ditemukan terkait dengan tanaman padi. Adanya serangan hama tikus, wereng, dan keong mas. Hama bukanlah bala dari Tuhan, seperti yang diketahui oleh kebanyakan orang. Namun, hama datang karena kesalahan pengelolaan lahan. Telah diterangkan pada paragraf sebelumnya bahwa hama tikus karena tertarik dengan warna daun hijau terang dan batang yang empuk. Hama wereng, datang karena adanya bau busuk. Bau busuk disebabkan oleh apa? ada dua kemungkinan yang menyebabkan bau busuk pada batang atau akar tanaman padi. Kemungkinan pertama disebabkan oleh terendamnya batang padi yang dalam waktu lama akan menyebabkan bau busuk. Mengapa terendam? Hal ini disebabkan oleh tanah yang bantat. Hal ini menyebabkan air tidak dapat terserap dalam tanah dan akhirnya akan menggenangi batang padi. Kemungkinan kedua disebabkan dengan penyemprotan pupuk cair yang salah. Penyemprotan seharusnya dilakukan dengan sistem U. Penyemprotan, harus dari bawah daun (kalau bisa, masuk melalui stomata). Mengapa tidak dari atas daun yang banyak dilakukan oleh kebanyakan petani? Kalau dari atas daun, pupuk cair kemungkinan besar akan mengalir ke pangkal daun (bukan masuk ke dalam tanah untuk diserap oleh akar). Lama-lama akan menyebabkan kebusukan pada tanaman tersebut. Hama keong mas, datang karena saat ini sudah sangat jarang ada tanaman pisang yang di pinggir lahan persawahan. Dengan kata lain, jika ada tanaman pisang maka hama keong mas akan berkumpul mendatangi debog pisang.

Kasus selanjutnya yaitu terjadinya penurunan produktivitas karena banyaknya bulir padi yang kosong. Hal ini disebabkan oleh adanya hama yang menyerap nitrogen (N) pada tanaman. Penyebab yang lainnya adalah kurangnya nutrisi pada tanah dan dekomposer yang merombak bahan organik menjadi bahan anorganik. Hal ini juga disebabkan oleh pemberian pupuk kimia yang berlebihan. Pemberian yang berlebihan ini menyebabkan binatang-binatang bermanfaat pada tanah menangis dan akhirnya mati. Akibatnya berimbas pada ketersediaan nutrisi pada tanah.

Dari kasus yang ada, tentu tidak sepenuhnya petani bersalah. Justru kita yang seharusnya berjuang. Belajar dan terus belajar. Menguasai ilmu pertanian, dan mentransfer ilmu tersebut kepada para petani sekaligus belajar untuk diri kita sendiri. Belajar di lapangan dan merasakan bagaimana perjuangan petani untuk menghasilkan satu butir beras. Belajar bersosialisasi di tengah-tengah masyarakat. Belajar mencintai bangsa Indonesia, agar tidak selamanya kita terjajah.

Semangat dan tetap semangat. Lelah itu pasti, namun senyum petani itu lebih berarti. Berarti untuk Indonesia dalam mewujudkan yang Negara yang Berdikari. Berarti untuk kita semua. Tersenyumlah ^_^ kita pasti bisa !

Kau berbakti untuk negeri
Tak kau hiraukan panas terik matahari
Perjuanganmu untuk bangsa ini
Wahai Petani

Kaulah pahlawan yang tak dikenal
Namun kau tetap semangat untuk berjuang
Jasamu sungguh luar biasa

Untuk Indonesia tercinta

14 Agustus 2014 (09.24)
ttd
@NurulMustafaa

Tidak ada komentar:

Posting Komentar