Dulu, aku
pernah protes saat banyak menjumpai daerah sekitar rumahku yang lahan-lahan
pertanian dijual dan didirikan perumahan-perumahan. Pernah berkata demikian
“apa mereka tidak berpikir, kalau lahan-lahan pertanian dijual lalu didirikan
perumahan maka daerah resapan airnya akan berkurang dan produksi pangan
menurun.” Disamping itu, aku juga tidak peduli dengan pertanian. Pernah
bertanya pada salah seorang temanku tentang cita-citanya dan ia menjawab
menjadi seorang petani seperti ayah dan ibunya. Selanjutnya aku menjawab “ha?
Jadi petani? Cuma nanam padi doank di sawah. Kalau kena hama, nanti rugi. Lebih
aman jadi PNS, dapat gaji.”
Sampai
saat ini, aku masih banyak menjumpai orang-orang yang protes dengan lahan-lahan
pertanian yang saat ini didirikan perumahan terlebih dikalangan anak muda.
Sebagai contoh kelasku pada saat kuliah Ilmu Lingkungan. Sebagai mahasiswa tentu harus kritis dengan keadaan lingkungan. Waw, pada
saat diskusi sungguh teman-teman sangat kritis tentang hal tersebut. Mereka
mengerti bagaimana tatacara pembangunan berkelanjutan. Mereka juga memahami
permasalahan-permasalahan yang terjadi di Indonesia hingga cara
penyelesaiannya. Tidak tanggung-tanggung, sampai memberi saran pada Pemerintah
dengan mengatakan “Seharusnya Pemerintah.......”
Itulah
keadaan kelasku. Disini, saya berpikir “Diskusi ini untuk apa?” kalau hanya
sekedar mengkritisi, apakah berguna untuk membangun bangsa? Sedangkan
masukan-masukan untuk membangun negeri hanya terkunci dikelas tersebut.
Oya,
aku tinggal di suatu perumahan daerah Kalasan Sleman Yogyakarta. Perumahan
tersebut adalah bekas perkebunan tebu. Aku mengira, dahulu disana luas sekali
akan perkebunan tebunya. Pernah bertanya-tanya masalah tebu. Dari sini
kudapatkan info bahwa perkebunan tebu itu risiko kegagalannya relatif tinggi.
Karena, tebu masa tanamnya mencapai 1 tahun. Kalau daerah sekitar rumahku,
pengairannya hanya mengandalkan hujan. Mungkin ini targetku selanjutnya setelah
bertani padi. Hmm kira-kira petualangan apa lagi ya? hahaha
Kembali
ke topik pembicaraan. Walau dari awal belum kutentukan topik pembicaraan, namun
telah kutuliskan tentang lahan pertanian yang dijual. Yah, kini kumengerti
pentingnya pertanian bagi kehidupan makhluk di dunia ini, terutama bagi
manusia.
Mengapa
banyak lahan pertanian Indonesia yang dijual oleh para petani?
Jika
anda termasuk orang yang mempertanyakan tentang hal ini dan merupakan orang
yang protes kepada para petani yang menjual lahannya, STOP! Jangan dulu
menyalahkan petani, namun cari dulu penyebabnya. Dari sosialisasi yang
kudapatkan, petani banyak yang menjual lahan pertaniannya disebabkan karena
rugi. Ya, R-U-G-I. Anggapan kebanyakan orang memang benar bahwa “Petani itu
untung-untungan”. Kadang untung, kadang rugi. Jika rugi lebih sering dialami
petani daripada untung, kukira wajar kalau petani banyak yang menjual lahannya.
Setelah menjual lahannya, mencari pekerjaan lain yang mungkin akan memberikan
gaji yang lebih tinggi. Dengan gaji yang lebih tinggi, maka kesejahteraan akan
meningkat. Lantas, apakah petani tidak memikirkan masyarakat Indonesia yang
sebagian besar mengonsumsi beras sebagai makanan pokok? Mungkin, lebih baik
jika pertanyaannya dibalik. Apakah masyarakat dan pemerintah memikirkan
kesejahteraan petani? Nah, adil bukan?
Dapat
dikatakan bahwa petani itu butuh dampingan. Mengapa demikian? Petani telah ahli
dalam kegiatan di lahan pertanian. Oleh karena itu, petani didampingi dalam
segi keilmuannya. Sedikit bercerita tentang pendampingan pertanian di desa
Nomporejo, Galur, Kulon Progo.
Petani
di desa Nomporejo sangat antusias dalam menyambut orang yang datang untuk
memberikan ilmu pertanian. Dulu pernah dari BP3K (Balai Penyuluhan Pertanian,
Perikanan, dan Kehutanan) mendatangi desa tersebut untuk memberikan Penyuluhan.
Namun, terdapat keluhan dari para petani, karena setelah diberi penyuluhan
tidak ada tindak lanjut dari pihak BP3K. Nah, hal itu berarti Petani sangat
membutuhkan ilmu dan pendampingan secara berkelanjutan untuk meningkatkan
produktivitas pertanian.
Dari
keluhan tersebut, TIM Healthy Field
Increase My Rice menuai gagasan untuk memberikan pendampingan pertanian
pada masyarakat desa Nomporejo. Selain antusiasme dari masyarakat petani, latar
belakang dari program pendampingan ini yaitu petani desa Nomporejo belum menerapkan
pengelolaan lahan secara biologis (melalui mikroba). Ya, memang jarang sekali
dari kalangan petani yang mengelola lahannya secara biologis. Padahal, tanah
yang sehat adalah tanah yang seimbang antara aspek kimia, fisika, dan biologi.
Hal yang sering dilakukan oleh petani yaitu pengelolaan lahan secara kimia dan
fisika. Secara kimia, petani biasa menggunakan pupuk untuk membuat tanaman agar
penampilannya lebih bagus. Mengapa aku berkata demikian? Misalnya saja pupuk
urea. Pupuk yang diprimadonakan oleh petani ini menyebabkan daun menjadi hijau
terang (tidak alami). Petani suka dengan ini dengan anggapan bahwa hijaunya
daun padi menandakan kesuburan tanaman. Begitu juga dengan tikus. Binatang ini,
sangat tertarik dengan warna hijau daun padi. Hmm, apalagi setelah hewan ini
mendatangi tanamannya, batangnya empuk. Wah, pastinya tikus-tikus pada
menikmatinya. Secara fisika, petani biasanya melakukan pembajakan atau
drainase. Hal ini dilakukan untuk menggemburkan tanah.
Kalau
kesuburan tanah harus memperhatikan 3 aspek yaitu secara kimia, fisika, dan
biologi berarti pengelolaannya pun harus dengan memperhatikan antara 3 aspek
tersebut. Jika tidak, maka keadaannya tidak akan seimbang. Banyak sekali kasus
yang ditemukan terkait dengan tanaman padi. Adanya serangan hama tikus, wereng,
dan keong mas. Hama bukanlah bala dari Tuhan, seperti yang diketahui oleh
kebanyakan orang. Namun, hama datang karena kesalahan pengelolaan lahan. Telah
diterangkan pada paragraf sebelumnya bahwa hama tikus karena tertarik dengan
warna daun hijau terang dan batang yang empuk. Hama wereng, datang karena
adanya bau busuk. Bau busuk disebabkan oleh apa? ada dua kemungkinan yang
menyebabkan bau busuk pada batang atau akar tanaman padi. Kemungkinan pertama
disebabkan oleh terendamnya batang padi yang dalam waktu lama akan menyebabkan
bau busuk. Mengapa terendam? Hal ini disebabkan oleh tanah yang bantat. Hal ini
menyebabkan air tidak dapat terserap dalam tanah dan akhirnya akan menggenangi
batang padi. Kemungkinan kedua disebabkan dengan penyemprotan pupuk cair yang
salah. Penyemprotan seharusnya dilakukan dengan sistem U. Penyemprotan, harus
dari bawah daun (kalau bisa, masuk melalui stomata). Mengapa tidak dari atas
daun yang banyak dilakukan oleh kebanyakan petani? Kalau dari atas daun, pupuk
cair kemungkinan besar akan mengalir ke pangkal daun (bukan masuk ke dalam
tanah untuk diserap oleh akar). Lama-lama akan menyebabkan kebusukan pada
tanaman tersebut. Hama keong mas, datang karena saat ini sudah sangat jarang
ada tanaman pisang yang di pinggir lahan persawahan. Dengan kata lain, jika ada
tanaman pisang maka hama keong mas akan berkumpul mendatangi debog pisang.
Kasus
selanjutnya yaitu terjadinya penurunan produktivitas karena banyaknya bulir
padi yang kosong. Hal ini disebabkan oleh adanya hama yang menyerap nitrogen
(N) pada tanaman. Penyebab yang lainnya adalah kurangnya nutrisi pada tanah dan
dekomposer yang merombak bahan organik menjadi bahan anorganik. Hal ini juga
disebabkan oleh pemberian pupuk kimia yang berlebihan. Pemberian yang
berlebihan ini menyebabkan binatang-binatang bermanfaat pada tanah menangis dan
akhirnya mati. Akibatnya berimbas pada ketersediaan nutrisi pada tanah.
Dari
kasus yang ada, tentu tidak sepenuhnya petani bersalah. Justru kita yang
seharusnya berjuang. Belajar dan terus belajar. Menguasai ilmu pertanian, dan
mentransfer ilmu tersebut kepada para petani sekaligus belajar untuk diri kita
sendiri. Belajar di lapangan dan merasakan bagaimana perjuangan petani untuk
menghasilkan satu butir beras. Belajar bersosialisasi di tengah-tengah
masyarakat. Belajar mencintai bangsa Indonesia, agar tidak selamanya kita
terjajah.
Semangat
dan tetap semangat. Lelah itu pasti, namun senyum petani itu lebih berarti.
Berarti untuk Indonesia dalam mewujudkan yang Negara yang Berdikari. Berarti
untuk kita semua. Tersenyumlah ^_^ kita pasti bisa !
Kau
berbakti untuk negeri
Tak
kau hiraukan panas terik matahari
Perjuanganmu
untuk bangsa ini
Wahai
Petani
Kaulah
pahlawan yang tak dikenal
Namun
kau tetap semangat untuk berjuang
Jasamu
sungguh luar biasa
Untuk
Indonesia tercinta
14 Agustus 2014 (09.24)
ttd
@NurulMustafaa
Tidak ada komentar:
Posting Komentar