Me and Friends

Me and Friends
FOSMAN (Forum Scientist Muda Nasional)

Sabtu, 07 Juni 2014

Cerpen: SOMBONG BAGAIKAN IBLIS

“Mulai detik ini, aku tidak akan pernah mau kenal sama dia. Sahabat macam apa? Tega-teganya menghancurkan hari terbaikku..!!”
Itulah komitmenku terhadap MANTAN sahabatku Fira. Bagaimana tidak? Menjelang final pertandingan basket, dia menjatuhkanku sehingga kakiku sakit, berdarah, pincang, dan akhirnya aku tidak bisa mengikuti pertandingan. Memang, itu sebuah ketidaksengajaan, tapi tetap saja dia yang salah.
Rasa kesalku kepada dia pun semakin meluap-luap ketika melihat dokumentasi pertandingan saat final. Itu karena group-ku yang menjadi juaranya dan saat itu, aku tidak berpartisipasi dan hanya berada di balik layar. Padahal, bertarung dengan Richa cs adalah moment yang paling aku tunggu-tunggu. Apalagi ini final.
Hari Senin telah tiba, saatnya kembali ke sekolah. Rasanya, kurang bersemangat. Bagaikan nenek-nenek saja. Bermata empat dan berjalan lambat. Aku pun minta bertukar posisi tempat duduk dengan salah seorang temanku, pokoknya aku tidak mau duduk bersama dia.
“Lho kenapa? Aneh?? Kalian kan anak kembar, mana mungkin bisa dipisah?” tanya Anita
“Kamu mau nggak sih?? Kalau nggak, aku tukar tempat sama yang lain.”kataku dengan tegas
“Iya deh.”kata Anita
“Gitu donk. Makasih ya...”kataku
Saat Fira masuk kelas, dia terlihat bingung, lalu mendatangiku.
“Nad, tempat duduk kita bukannya di depan ya?”tanya Fira
“Dulu. Tapi sekarang tidak. Oh..ya..sekarang sudah tidak ada lagi kata KITA, adanya aku, kamu. OK!! Oh..ya, aku juga belum memberi tahu kamu bahwa sekarang aku duduk bersama Dina sedangkan kamu sama Anita.”kataku dengan tegas
“Apa?? Tapi kenapa Nadia? Aku salah apa? Gara-gara hari Sabtu kemarin?? Kamu kan tahu, aku tidak sengaja!! Aku juga sudah minta maaf.”kata Fira
“Apapun itu, aku tetap marah sama kamu.”kataku dengan lirih
Aku pun keluar kelas menuju lapangan upacara. Saat upacara hampir dimulai, Fira menghampiriku.
“Nad, kamu ke UKS saja yuuk, kakimu kan masih sakit.”kata Fira
“Itu urusanku. Ini semua juga gara-gara kamu.”kataku
Entah kenapa, marah masih menyelimuti hatiku. Ya Allah, sulit rasanya menghilangkan rasa marah. Gara-gara gengsi, kakiku jadi tambah sakit, apalagi saat upacara selesai. Hampir saja aku tak bisa berjalan. Fira pun merangkulku dan aku menolaknya. Rasa marah ini masih terus membara sampai pulang sekolah.
Suatu hari, tepatnya Jumat pukul 17:30 WIB seusai nonton pertandingan basket di sekolah, ayah telat menjemputku sampai magrib menjelang. Akhirnya aku salat di mushola. Setelah itu kulanjutkan membaca Al-Qur’an.
Dengan lirih, kubaca surat Al-Hijr ayat 26-44. Setelah selesai, tiba-tiba temanku yang baru selesai salat menghampiri.
“Kamu nggak baca terjemahannya?”tanya Ria
“Enggak.”jawabku
“Memank kamu tahu artinya? Kalau nggak, bagaimana kamu tahu maknanya kalau artinya saja tidak tahu.”kata Ria
Lalu kubaca terjemahannya. Sampai ke ayat 32-33 yang berbunyi “Dia (Allah) berfirman, “Wahai iblis! Apa sebabnya kamu (tidak ikut) sujud bersama mereka?” dan “Ia (iblis) berkata, “Aku sekali-kali tidak akan sujud kepada manusia yang Engkau telah menciptakannya dari tanah liat kering dari lumpur hitam yang diberi bentuk.”.
“Waw...selanjutnya?”kata Ria
“Dia (Allah) berfirman, “(Kalau begitu) keluarlah dari surga, karena sesungguhnya kamu terkutuk,”Al-Hijr ayat 34
“Wah, jadi iblis itu keluar dari surga karena kesombongannya tidak mau bersujud kepada Adam. Berarti kaya’ kamu donk!!hahaha...”kata Ria dengan frontal
“Ha??kok bisa?”tanyaku dengan terkejut
“Yaiyalah. Sudah 2 minggu ini, kamu marah sama Fira. Sedangkan dia, udah beribu-ribu kali minta maaf sama kamu.”kata Ria
“Eh, Ri...memaafkan itu tidak semudah minta maaf.”kataku
“Iya, bagi orang-orang sombong seperti kamu. Allah saja yang suci mau memaafkan hambanya sekotor apapun dia, sedangkan kamu yang hanya diciptakan dari setetes air mani yang hina, tidak mau memaafkan kesalahan temannya. Sebagai manusia, kamu pasti juga pernah melakukan kesalahan. Kamu juga sudah membaca terjemahan surat Al- Hijr tadi, iblis itu dikeluarkan dari surga karena dia sombong “merasa lebih mulia” dari manusia (Adam) sehingga dia tidak mau bersujud. Terus apa bedanya kamu sama iblis? Dengan tidak mau memaafkan kesalahan orang lain, otomatis kamu itu sombong merasa  mulia dan bagaikan orang yang tidak pernah melakukan kesalahan.”kata Ria menasihatiku
Aku hanya terdiam mendengar kata-kata Ria, seraya membenarkannya.
“Kenapa kamu diam? Yasudah, aku harap kamu merenungkan ayat-ayat yang kamu baca. Aku pulang dulu ya.”Kata Ria
Tak lama kemudian, ayah menjemputku. Aku pun pulang sambil merenungkan ayat-ayat tadi. Aku merasa, selama ini aku sombong bagaikan iblis. Astagfirullah...
Keesokan harinya, aku kembali duduk di bangkuku. Otomatis, Anita kembali ke tempatnya. Fira pun yang baru datang merasa heran dengan apa yang kulakukan. Ia berdiri di dekatku dan terpaku melihatku. Ia terdiam dan aku tersenyum padanya. Lalu aku berdiri, menatap wajahnya, dan kudekati dia. Kupeluk erat tubuhnya dan berkata “Fira, maafkan aku.”. Saat itu, aku tak bisa berkata lebih. Air mata yang kubendung, tak kuasa kutahan lagi. Dengan deras, air mataku mengalir membasahi jilbab Fira.
“Enggak Nad, kamu nggak salah. Aku yang salah, kamu tak perlu minta maaf. Jangan nangis ya...aku jadi ikutan nangis niiih.”kata Fira sambil menangis
“Iya Fir, sekarang kita bersahabat lagi kan?”tanyaku
“Iya Nadia.”Kata Fira tersenyum sambil menghapus air mataku
Teman-teman pun bersorak dan memberi selamat. Wah..bagaikan mendapat penghargaan. Pada saat itu, aku sangat bahagia. Selain mendapatkan sahabatku kembali, juga bisa belajar dari pengalaman tersebut. Hmm..ternyata marahan itu nggak enak ya...hahaha...

Minggu, 22 Desember 2013

Belajar Pendidikan Karakter dari Pertemuan Singkat di Research Team

Semangat dan pantang menyerah. Itulah sifat yang tergambarkan dalam diri seorang mahasiswa baru dari Fakultas Teknik. Ia benama Rizky. Entah mengapa aku ingin mengulas kisah yang sangat mengisnspirasi dari dirinya. Baru satu bulan, aku mengenalnya dalam Research Team, salah satu alur dari UKM Penelitian UNY.
22 September 2013, pertama kali kubertemu dengannya. Kami dibimbing oleh dua orang mentor yang luar biasa, Mas Ingge dan Wahyu Ihsan namanya. Tetapi dalam proses pembimbingan, kami lebih sering dibimbing sama mas Ingge. Hemm..mentor yang menginspirasi sudah biasa kali ya, tak perlu dibahas. Maba yang menginspirasi, baru luar biasa.
Kembali ke topik awal. Saat pembagian tim, itulah awal dari berinteraksinya aku dan Rizky, emh ditambah Tesa. Rizky dan Tesa dulu satu SMK, yang dulu pernah berjuang bersama-sama meraih juara 3 Lomba Kreativitas Siswa. Dari raut wajahnya sudah terlihat bahwa mereka ini adalah anak-anak dengan semangat yang tinggi. Wajah-wajah itulah yang membuatku menunda mengerjakan PKMM ku yang telah direncanakan sejak awal September 2013. Yaah, aku lebih mementingkan PKMP dari Research Team yang kukerjakan bersama mereka. Karena, mereka semangat banget, dan aku tidak mau membuat mereka kecewa. Emmh, ada satu partner lagi namanya Erric. Dia adalah orang yang juga membantuku dalam tim ini.
Nastar Bekatul. Itulah topik dari PKM Research Team kami. Awalnya sempat bingung antara mau dibuat PKMP atau PKMK. Karena belum tahu kandungan gizinya, akhirnya kami lebih memilih untuk dibuat PKMP. Untuk memutuskan jenis PKM-nya saja, rizky masih sempat bertanya juga dengan guru SMK-nya, dan jawabannya pun sama, PKMP. Yaah, itu adalah karya dia dan Tesa yang sempat meraih juara 3 LKS.
Saat pertama membaca susunan penulisan dari Rizky, aku tertawa ngakak. Bukan hanya karena penulisannya yang amburadul, akan tetapi juga teringat pada saat aku SMA. Rizky mendingan, rumusan masalah ada 5 tujuannya ada 8, aku dulu antara tujuan dan kesimpulan sama sekali tidak ada sangkut pautnya. Padahal kesimpulan itu menjawab tujuan. Akhirnya dibantailah pada saat presentasi di Kabupaten. Hmm..pengalamanku yang sangat menyedihkan.
Hebatnya Rizky, dia langsung bertanya dan sangat antusias untuk memperbaiki karyanya. Sore diberi PR ini, besoknya sudah langsung dikerjakan. Minta dikoreksi, konsultasi sama mas mbak UKMP, dan langsung disempurnakan. Tanpa lelah dalam mencari ilmu. Bahkan, tak jarang ia datang ke mipa untuk mencari dosen pembimbing.
5 Oktober adalah waktu untuk ulpload internal. Sebelum upload, ia terus menyempurnakan PKM-nya itu. Yaah di depan Sekre KSI MIST yang penuh dengan keramaian maba-maba yang ingin berkarya. Saat mau upload, web-nya error. Pada malam harinya, Erric-lah yang bertugas untuk upload.
Hmm..hari demi hari terlewati. Sampai persiapan presentasi proposal. Hmm..semangatnya yang membara dari imogiri sampai ke UKMP untuk belajar presentasi. Pada saat presentasi pun, ia terlihat keren banget. Benar-benar menerapkan saran dari sang mentor.
Sampai saat H-1 upload eksternal. Pada sore harinya tiba-tiba dapat sms “mbak, mas, tas-ku dan semua isinya hilang. Pkm yang sudah fix ada di laptop dan belum sempat aku upload. Maaf sekali L sekarang aku bingung mau ngapain.”
Apa yang akan kalian lakukan, jika kalian menjadi si pemilik tas?
Kalau aku, mungkin galau, sedih, dan kehilangan semangat. Mungkin aku tak akan pernah berpikir akan PKM-PKM-an yang telah kuperjuangkan selama satu bulan.
Hmm..saat itu aku berusaha menenangkannya. Aku pun tak membahas PKMP-nya itu. Aku hanya mengikuti dia saja.
Lalu ia tanya “terus bagaimana?”. Dan kujawab “tidak apa-apa, kita perbaiki saja, masih ada waktu.”
Dari pagi, hingga sore dia memperbaiki PKM-nya itu. maklumlah, file yang kubawa hanya fix untuk proposal seminar saja. Yaa, selama waktu belum habis ia masih berjuang untuk itu. Kebayang nggak sih? Kalau aku, mungkin konsentrasi sudah amburadul.
Setelah selesai, ia pamit pulang dan berkata “nanti malam aku aja yang upload, nanti aku ke warnet”. Ya Allah, sabar banget ni anak. Walaupun senyumannya sedikit tertutupi oleh kesedihannya.
Sampai malam jam 8, aku on line dan chat dengan dia. Ini hari terakhir upload. Ngetik alamatnya saja terkadang nggak keluar apalagi log in, terlebih upload. Karena telah larut malam, saya suruh send ke fb dan aku yang akan bertanggung jawab untuk meng-uploadnya.
Tiba-tiba aku terbangun dan waktu telah menunjukkan pukul 23.50 WIB. Astagfirullah, aku ketiduran. Jam 24 lebih sedikit, aku bisa log in. Akan tetapi, tombol-tombol sudah tidak aktif lagi. Aku menyangka, waktu memang telah habis. Saat itu, aku merasa bersalah banget sama Rizky. Khawatir, semangat membara dari dia luntur karena tak ter-upload. Aku pun terus terang “dek, maaf. Aku ketiduran”.
Lama tidak ada balasan, mungkin dia sudah tertidur pulas. Aku terus mencoba dan mencoba. Sekitar pukul 01.14 WIB tombol-tombol aktif kembali, dan Alhamdulillah PKMP bisa terupload.
Skitar pukul 5, Rizky sms “nggak papa mb, mungkin belum rejeki”.
Bagaimana perasaanmu??
Aku lemas membaca sms nya. Ya Allah, dia sabar banget. Dari semangat mencari ilmu, belajar presentasi, laptop hilang lanjut memperbaiki PKM dari awal, pasrah PKM tidak terupload padahal sebelum itu ia telah berjuang demi teruploadnya PKM.
dengan tegas kukatakan “alhamdulillah, sudah di upload dek. Ternyata masih bisa”
Dengan singkat, padat, dan jelas ia berkata “Alhamdulillah J”
Dari pertemuan singkat di Research Team ini, aku bisa belajar banyak dari dia. Semangat, sabar, pasrah. Aaaahhh...pendidikan karakterlah pokoknya. Hehehe....

Jumat, 01 November 2013

Puisi Temuan

Suatu hari, di dalam map putih, aku menemukan sesuatu yang sedikit mengejutkan. Sesuatu apa kira-kira? Coba terka !!! hahaha...
Yupz, puisi geje alias nggak jelas. Entah apa yang ada di pikiranku saat itu. dari bahasanya sih, bahasa galau. Tidak tahu juga, kapan aku nulisnya. Yang jelas, pada saat rapat stanisasi ukm 2013. Mau tahu bagaimana puisinya??

Tlah kau goreskan luka ini
Luka dalam hati
Dalaaaaam sekali...
Mungkin kau tak merasa
Karena kau tak sengaja
Tapi aku yang merasakan
Betapa perihnya luka ini
Maafkan aku, jika aku begini
Semua adalah karenamu
Kau yang menyebabkan ini semua
Terimakasih atas lukisan indah ini
Aku berharap,
Lukisan ini tidak akan terulang kembali...

Tuh kan, puisinya galau banget. Aku sendiri lupa sama suasana hatiku pada saat itu. Hmm, tapi kalau dipikir-pikir lumayan juga punya puisi galau. Sebentar, sebentar... Bukankah puisiku galau semua ya??? :P

Yogyakarta, 01 November 2013
Penulis Pemula
@NurulMustafaa
09.42 WIB
Kuliah Manajemen Pendidikan

Rabu, 16 Oktober 2013

Sebuah Renungan yang #Jleb



Sepulang dari Kulon progo, aku belajar banyak dari perhatian seorang ibu terhadap anak. Yupz, empat hari yang lalu aku silaturahim ke rumah mbak Fatma. Keluarganya, baik banget. Saking baiknya, saya jadi tidak enak kalau berlama-lama disana. Yaah,,aku begitu dianggap sebagai raja. Jadi, merasa kalau aku disana merepotkan.
Di sela-sela waktu yang ada yaitu pada saat mbak fatma tidak berada di dekatku, ibu bercerita tentangnya.
“Ifa (read: Fatma) tu kalau saya telepon sering sekali lagi berada di kampus pusat. Padahal kampus pusat dengan kampus wilayah (Bantul) itu jaraknya jauh.”
Jawabku (sok tau) “iya bu, soalnya mbak fatma ketua Reality. Ya,,seperti UKM Penelitian bu.”
“Kalau dikampus pusat, terus disana ngapain aja?”tanya ibu
Jawabku (sok tau) “ya, mengawasi adek-adek-nya bu. Kan ketua, jadi mungkin sering dicari-cari sama anggotanya. Terus banyak juga yang minta tolong buat dikoreksi karya tulisnya (kataku dalam hati: untung mbak fatma td sempat cerita).”
“Ow, begitu. Dia tu dari dulu memang seperti itu. dulu sibuk di OSIS, pulangnya sering malam. Memang aktif sih disekolah, tapi untuk pekerjaan perempuan di rumah dia tidak tahu apa-apa.”
#Jleb. Dari perkataan ibu yang seperti itu, langsung aku tak bisa berkata-kata lagi. Tersenyum dan berkata “ya”. Dengan otomatis juga, langsung teringat dengan ibuku. Apakah ibuku berpikiran demikian saat aku sering pulang malam?? Dalam hati juga aku berkata “Ibu, maafkan Nurul. Aku tidak mengerti apa-apa tentang pekerjaan rumah. Bapak, maafkan nurul, krn belum bisa masak.”
Owh, aku pun teringat dengan perkataan ibuku, kira-kira setahun yang lalu. Pada saat itu, kegiatanku sangat padat. Hampir dalam waktu satu minggu, tidak berada di rumah. Bahkan mungkin, dalam waktu sehari saya lebih sering berada di kampus.
Suatu hari, saya akan pergi. Lalu ibuku berkata (dalam bahasa jawa, saya indonesiakan) “kamu mau kemana?”
“ke Menwa bu”jawabku singkat, padat dan jelas
“kok ke Menwa terus? Tidak usah berangkat.”larangan ibuku
“Lah kenapa bu? Kog aku tidak boleh ke menwa?”tanyaku
“Kamu tu nggak pernah di rumah lho. Sabtu-minggu pasti pergi. Masak seorang ibu tidak boleh melihat anaknya dirumah?”kata ibuku
Yaah, sungguh menyesakkan. Rasa sedih dan merasa bersalah. Aku bertanya pada diriku “apakah diriku sudah keterlaluan??” #Astagfirullah...
Kukira wajar ibuku berkata demikian. Karena memang pada saat aku pulang semua keluargaku sudah terlelap dan mungkin mereka hanya melihatku di pagi hari, itu pun pada saat sarapan. Jika ditelaah lebih dalam lagi, akulah yang bersalah T.T.
Hmm..ada lagi ni. Pada saat kumpul keluarga di ruang tamu, ibu mbak fatma kembali berkata. “Ifa tu kalau pulang malam terus, sukanya ngeyel. berhubung sekarang di kost jadi bebas, tidak ada yang ngawasi.”
Rasanya #Jleb lagi. Owh..itu aku bu, bukan hanya mbk Fatma T.T.
Bersyukur, aku tidak kost. Sehingga masih memiliki seorang pengawas, yaitu ibu.
Ibu, ibu, ibu. Mungkin dimana-mana selalu sama. Selalu khawatir disaat anaknya belum berada dirumah pada waktu yang seharusnya telah berada dirumah.
Ibuku dan ibu mbak fatma hampir mirip. Dari cara menyuruh anaknya pulang kerumah, yaitu dengan sms yang intinya “gek pulang, sudah malam”, kalau tidak pulang-pulang ya ditelepon.
Aku dan mbak fatma pun juga memiliki kesamaan. Sukanya pulang malam, tapi saat melihat adik angkatan yang pada saat dimalam hari ia belum pulang, selalu khawatir. Intinya mengkhawatirkan orang lain tetapi sama diri sendiri tidak khawatir.
Owh, berharap aku segera insyaf.
Ayo Nurul, kurangi aktivitasmu, jati dirimu telah kau temukan. Jalani dan dalami....

Selasa, 24 September 2013

Tetap Terjaga

Tetap Terjaga

Tak dapat kutahan tiang tubuhku ini untuk tetap terjaga.
Di tengah perkuliahan yang begitu menegangkan
Duduk, mencatat, dan sering kali ku terlelap
Mencoba mencari pemandangan yang dapat membuatku tetap terjaga
Kuambil teman setia
Yang selalu menemaniku untuk mengabadikan kejadian yang mungkin tidak bisa terulang
Kutatap sampai seluruh sudut ruangan
Tak jarang kutemukan mereka terlelap
Menikmati hangatnya AC ruangan dan merdunya dongeng darinya
Dengan berbagai macam gaya, mereka mengekspresikannya
Duduk tegak dan menundukkan kepala
Menundukkan kepala dengan membawa pena
Ada juga yang memalingkan wajah darinya
Kucoba untuk bertahan
Dengan menggambarkan sedikit kisah diperkuliahan

24 September 2013
12.20 WIB

EVALUASI DAN REMEDIASI D07.206

Selasa, 10 September 2013

Copet?? Kebakaran?? Kejepit?? :O

Teriakan-teriakan wanita yang berada di gerbong terakhir KRL khusus wanita membangunkan tidurku yang baru saja kunikmati. Sepertinya aku telah terperangkap dalam kebingungan.
            “apa?? Ada copet??” tanyaku dalam hati
Kulihat salah seorang membuka jendela kereta di paling belakang disertai dengan terakan-teriakan yang semakin memanas.
            “apa sih?? Kebakaran??” tanyaku mulai panik
Tiba-tiba ada yang mengatakan “tangannya kejepit, tangannya kejepit...”
            “tangannya kejepit???” kata seseorang yang saya sendiri masih belum nyambung
            “tangannya kejepit, pintunya dibukka. Bilang sama bapak-bapa yang di depan.”kata seorang dan saya mulai nyambung dengan ucapannya.
Dengan spontan dan tanpa pikir panjang, aku pun langsung berlari menuju ke gerbong utama. Tubruk sana, tubruk sini dengan mengucapkan  permisi, permisi ada orang kejepit. Rasanya nggak nyampe-nyampe ke gerbong utama. Seorang temanku yang juga berlari dibelakangku berkata “ini gerbong ke berapa ya?? Nggak nyampe-nyampe??”. Sampai akhirnya sampailah ke gerbong utama. Aku pun langsung berkata “pak, ada orang kejepit, pintunya dibuka...”.
Dibukalah pintu KRL-nya dan legaaaaaa. Seorang security di gerbong utama, langsung cap cus ke gerbong belakang guna memastikan keadaan orang tersebut baik-baik saja. kami pun langsung menuju ke gerbong semula.
Seorang yang berada disana menginfokan bahwa ia baik-baik saja #Alhamdulillah. Seorang security ikhwan berkata “wah, mbak. Bilang donk kalau yang kejepit tu security-nya. Dia kan kuat, nggak kenapa-napa”. Dueeeerrr....walah, ternyata securitynya to.... :O

Jumat, 05 Juli 2013

1000 kata di 06 Juli 2013

Lama sekali jari-jariku ini tidak menari diatas keyboard. Yaah, itu karena kesibukanku sampai tidak menyempatkan diri untuk menyentuhnya. Sembari menunggu datangnya pembicara, saya mencoba untuk mengayunkan jari-jariku kembali. Sebentar lagi akan ada pelatihan P3K, tapi sebenarnya namanya sudah diganti menjadi PK. Karena kenapa? Karena jika namanya teteap P3K, maka Pertolongan pertamanya hanya pada waktu kecelakaan saja. Jadi lebih baik namanya PK alias Pertolongan Pertama. Jadi, pada saat sakit tetap saja bisa ditolong. Pada saat pelatihan seminggu yang lalu, saya mengetahui istilah-istilah baru. Akan tetapi yang saya ingat hanyalah LDR. Kira-kira apa kepanjangannya? Long Distance Relation kah?? Ow..tentu bukan. Kepanjangnnya ialah Lihat, Dengar, dan Rasakan. Lihat tanda-tanda masih bernafas, dengar suara pernafasan, dan rasakan adanya pernafasan. Hohoho, unyu kan. Aku malah baru tahu kalau ada istilah bahwa LDR yang terkenal itu kepanjangan dari Long Distance Relation.
Tugas saya kali ini banyak banget. Sambil menulis, sambil kuingat kembali apa saja tugas liburan saya? Pertama, menjadi pengawas Teefasque. Kedua, menjadi Panitia OSPEK Fakultas sebagai Sie P3K. Ketiga, Proposal Seminar Bela Negara serta KDS dan GP 1 nasional. Keempat, saya harus menyicil buletin untuk OSPEK. Kelima, saya harus menyicil majalah untuk HUT Menwa. Keenam, ada Sembada Cendekia. Ketujuh, LPJ KSI MIST. Kedelapan, menjadi Aktor Pentas Raya SEKRUP FMIPA UNY. Kesembilan, harus bisa menghasilkan karya antara lain Cerpen dan KTI. Kalau dilihat, mungkin tidak tugas-tugas saya akan selesai?? Jawabannya jelas SANGAT TIDAK MUNGKIN. Karena kenapa? Tugas itu jangan dilihat, tetapi dikerjakan. Yaah, saya sangat menikmati semuanya. Semua itu akan saya lakukan semua dengan CINTA. Yaa, cinta kepada semua yang saya kerjakan.
Disini saya mau bercerita. Hmm..begitu banyak organisasi yang saya ikuti. Organisasi-organisasi yang saya ikuti, sangat berbeda ranahnya. Pertama, Teefasque ranahnya seperti ROHIS (dakwah), urusannya lebih ke TPA. Kedua, KSI MIST ranahnya dibidang Penelitian. Ketiga, SEKRUP ranahnya dibidang kesenian. Keempat, MENWA ranahnya ke Bela Negara. Kelima, Sembada Cendekia ranahnya ke dakwah dan lebih ke sekolah-sekolah di Kabupaten Sleman DIY. Dari ranahnya saja sudah jelas ya. Kira-kira bagaimana makhluk-makhluk yang ada didalamnya? Tentu sangat berbeda pula. Obrolan-obrolannya pun juga sangat berbeda. Kira-kira ilmu yang paling banyak didapat dimana? Jawabnya semuanya. Karena semua bidang-bidang tersebut masing-masing ada ilmunya. Kalau yang paling menghibur? Hmm..kira-kira yang mana ya?? Jujur, saya jawab di Sekrup. Orangnya aneh-aneh, alay-alay, dan karena itulah saya disana bisa tertawa sampai perutku sakit. Begitulah, kalau mau tertawa tapi ditahan. Ya harusnya memang seperti itu aturannya, tertawa itu jangan sampai lupa mati. Huaaa...jadi ngomongin mati. Yupz, kesejatian kita akan terlihat pada saat kita mati nanti. Hmm,,waktu, tempat, dan cara kematian, 3 hal tersebut masih dalam misteri. Makanya hati-hati, jaga sikap, jaga omongan, jaga aurat, jaga semuanya.
Pesertanya sudah mulai berdatangan. Sudah lumayan banyak ni. Semuanya dinikmati saja. Aku ingin mencoba mengupas kata-kata dari seseorang. “Biarlah waktu dan raga itu bekerja, yang paling sulit adalah mempertahankan azzam”. Dalam banget ya kata-kata dari beliau. Itu adalah kata-kata yang beliau ucapkan pada saat saya menghadapi masa-masa galau dan ketakutan. Pada saat itu saya mendapatkan amanah sebagai KSU Humas di Menwa dan Sekretaris I di KSI Mist. Rasanya takut akan tidak bisa menjalankan amanah tersebut. Tapi setelah keluar kata-kata tersebut dari chat facebook, rasa percaya diriku mulai tumbuh. Dari dalam hati aku mengatakan “pasti bisa dan pasti bisa”. Terbukti dalam tengah tahun ini saya melewatinya. Ada dua temanku yang sedang galau dengan masalahnya dan saya berikan kalimat tersebut, eh termotivasi. Langsung update status. Berarti memang keren banget ya kalimat itu. Ohya, kalau ada yang membaca ceritaku ini, kira-kira tahu tidak apa maksud dari kalimat tersebut? Jadi begini, kalau kita bekerja itu jangan melihat berapa banyak tugas kita. Kerjakanlah satu persatu, biarkan ragamu itu bekerja, biarlah waktu itu berputar, tetap istiqomah dalam mengerjakannya. Lama-lama selesai kan? Hal yang paling indah adalah pada saat kita bisa menyelesaikan amanah yang diberikan kepada kita. Betul nggak???
Sepertinya sudah hampir mulai ni pelatihannya. Si MC sudah mulai beraksi. Ini dari MIPA Cuma GUE. Owh, kasian sekali. Pembicaranya belum datang, si MC Galau. Sepertinya saya kenal, namanya ALIF dari KSR. Ia juga dari MIPA, biologi pula. Hmm, jadi MC itu sulit tau. Aku belum berani jadi MC. Pernah siih, waktu SD. Kalau ditelusuri, mengapa pada saat SD saya lebih berani daripada sekarang?
Hmm..aduuuh ini lagi asyik menulis malah ada ice breaking. Pleaseeeee, gue lagi beraksi ni. Timun, Nanas, Pepaya, Semangka, bengkoang. Gue jadi apa ni? Owh, ternyata pembicara sudah datang. Siip deh, saya tutup dulu. (08.53 WIB)
Yeah, sekarang waktu telah menunjukkan pukul 12.53 WIB. Saatnya melanjutkan tulis-menulis guna melepas rasa galau. Serius, sekarang saya tambah galau. Padahal kemarin semangatku membara-mbara dan sekarang menjadi pesimis, down, dan ougggh. Ya Allah..tolong hambamu ini. Ada masalah apa sih? Entahlah, aku sangat bersemangat tadinya, rasanya butuh teman curhat. Kalau curhat itu sama Allah, bukan sama manusia. Sulit ya ternyata, melakukan apa yang betul-betul benar. Andai saja saya akrab dengan beliau, mungkin aku akan curhat. Tetapi apa daya tangan tak sampai (husshh...). Curhat sama dia sepertinya menyenangkan. Ia selalu punya solusi. Walaupun ia hanya memberikan buah yang masih ada kulitnya dan aku disuruh mengupasnya sendiri. Tapi, itu cukup untuk bisa memotivasiku. Sayangnya, saya tidak akrab dengannya. Owh..mungkin waktu yang akan berbicara. Saya juga sebenarnya ingin sekali menghindarinya, tapi dia terlalu bijaksana dan saya butuh ilmu dari dia. Hemm.. orang pintar banyak kog. Belajar tidak harus dengan dia. Ini malah ngomongin apa sih? Seharusnya ngomong tu seperlunya yang ada ilmunya, begitu lho. Tapi, ini hanya buat iseng-iseng saja kog. Melatih kebiasaan saja, biar Habits.
Sekarang berbicara apa lagi ya. Hemm..tentang pelatihan P3K tadi. Pelatihannya sungguh luar biasa. Menyenangkan dan melelahkan. Seneng mendapatkan ilmu baru, walaupun masih ada rasa penasaran di dalamnya. Sepertinya saya belum matang mendapatkan ilmunya. Ingin mencari-cari tahu lagi. Lelah, tapi tidak begitu lelah. Lebih banyak senengnya dibandingkan dengan lelahnya. Tadi belum apa-apa sudah disuruh push-up. Seharusnya pemanasan dulu, minimal tanganlah. Soalnya tadi kan hanya duduk-duduk saja, tidak melakukan apa-apa. Walaupun hanya 15 kali kan ototnya kaget juga kan. Tadi saya jadi penolong terus ni ceritanya. “yaiyalah” orang praktiknya aja pake gendong-gendongan. Mana ada yang kuat gendong aku? Hayooooo.....

Yang terpenting adalah tetap semangat saja. Jangan pernah putus asa. Siap!!