Me and Friends

Me and Friends
FOSMAN (Forum Scientist Muda Nasional)

Sabtu, 07 Juni 2014

Cerpen: SOMBONG BAGAIKAN IBLIS

“Mulai detik ini, aku tidak akan pernah mau kenal sama dia. Sahabat macam apa? Tega-teganya menghancurkan hari terbaikku..!!”
Itulah komitmenku terhadap MANTAN sahabatku Fira. Bagaimana tidak? Menjelang final pertandingan basket, dia menjatuhkanku sehingga kakiku sakit, berdarah, pincang, dan akhirnya aku tidak bisa mengikuti pertandingan. Memang, itu sebuah ketidaksengajaan, tapi tetap saja dia yang salah.
Rasa kesalku kepada dia pun semakin meluap-luap ketika melihat dokumentasi pertandingan saat final. Itu karena group-ku yang menjadi juaranya dan saat itu, aku tidak berpartisipasi dan hanya berada di balik layar. Padahal, bertarung dengan Richa cs adalah moment yang paling aku tunggu-tunggu. Apalagi ini final.
Hari Senin telah tiba, saatnya kembali ke sekolah. Rasanya, kurang bersemangat. Bagaikan nenek-nenek saja. Bermata empat dan berjalan lambat. Aku pun minta bertukar posisi tempat duduk dengan salah seorang temanku, pokoknya aku tidak mau duduk bersama dia.
“Lho kenapa? Aneh?? Kalian kan anak kembar, mana mungkin bisa dipisah?” tanya Anita
“Kamu mau nggak sih?? Kalau nggak, aku tukar tempat sama yang lain.”kataku dengan tegas
“Iya deh.”kata Anita
Gitu donk. Makasih ya...”kataku
Saat Fira masuk kelas, dia terlihat bingung, lalu mendatangiku.
“Nad, tempat duduk kita bukannya di depan ya?”tanya Fira
“Dulu. Tapi sekarang tidak. Oh..ya..sekarang sudah tidak ada lagi kata KITA, adanya aku, kamu. OK!! Oh..ya, aku juga belum memberi tahu kamu bahwa sekarang aku duduk bersama Dina sedangkan kamu sama Anita.”kataku dengan tegas
“Apa?? Tapi kenapa Nadia? Aku salah apa? Gara-gara hari Sabtu kemarin?? Kamu kan tahu, aku tidak sengaja!! Aku juga sudah minta maaf.”kata Fira
“Apapun itu, aku tetap marah sama kamu.”kataku dengan lirih
Aku pun keluar kelas menuju lapangan upacara. Saat upacara hampir dimulai, Fira menghampiriku.
“Nad, kamu ke UKS saja yuuk, kakimu kan masih sakit.”kata Fira
“Itu urusanku. Ini semua juga gara-gara kamu.”kataku
Entah kenapa, marah masih menyelimuti hatiku. Ya Allah, sulit rasanya menghilangkan rasa marah. Gara-gara gengsi, kakiku jadi tambah sakit, apalagi saat upacara selesai. Hampir saja aku tak bisa berjalan. Fira pun merangkulku dan aku menolaknya. Rasa marah ini masih terus membara sampai pulang sekolah.
Suatu hari, tepatnya Jumat pukul 17:30 WIB seusai nonton pertandingan basket di sekolah, ayah telat menjemputku sampai magrib menjelang. Akhirnya aku salat di mushola. Setelah itu kulanjutkan membaca Al-Qur’an.
Dengan lirih, kubaca surat Al-Hijr ayat 26-44. Setelah selesai, tiba-tiba temanku yang baru selesai salat menghampiri.
“Kamu nggak baca terjemahannya?”tanya Ria
Enggak.”jawabku
Memank kamu tahu artinya? Kalau nggak, bagaimana kamu tahu maknanya kalau artinya saja tidak tahu.”kata Ria
Lalu kubaca terjemahannya. Sampai ke ayat 32-33 yang berbunyi “Dia (Allah) berfirman, “Wahai iblis! Apa sebabnya kamu (tidak ikut) sujud bersama mereka?” dan “Ia (iblis) berkata, “Aku sekali-kali tidak akan sujud kepada manusia yang Engkau telah menciptakannya dari tanah liat kering dari lumpur hitam yang diberi bentuk.”.
“Waw...selanjutnya?”kata Ria
Dia (Allah) berfirman, “(Kalau begitu) keluarlah dari surga, karena sesungguhnya kamu terkutuk,”Al-Hijr ayat 34
“Wah, jadi iblis itu keluar dari surga karena kesombongannya tidak mau bersujud kepada Adam. Berarti kaya’ kamu donk!!hahaha...”kata Ria dengan frontal
“Ha??kok bisa?”tanyaku dengan terkejut
“Yaiyalah. Sudah 2 minggu ini, kamu marah sama Fira. Sedangkan dia, udah beribu-ribu kali minta maaf sama kamu.”kata Ria
“Eh, Ri...memaafkan itu tidak semudah minta maaf.”kataku
“Iya, bagi orang-orang sombong seperti kamu. Allah saja yang suci mau memaafkan hambanya sekotor apapun dia, sedangkan kamu yang hanya diciptakan dari setetes air mani yang hina, tidak mau memaafkan kesalahan temannya. Sebagai manusia, kamu pasti juga pernah melakukan kesalahan. Kamu juga sudah membaca terjemahan surat Al- Hijr tadi, iblis itu dikeluarkan dari surga karena dia sombong “merasa lebih mulia” dari manusia (Adam) sehingga dia tidak mau bersujud. Terus apa bedanya kamu sama iblis? Dengan tidak mau memaafkan kesalahan orang lain, otomatis kamu itu sombong merasa  mulia dan bagaikan orang yang tidak pernah melakukan kesalahan.”kata Ria menasihatiku
Aku hanya terdiam mendengar kata-kata Ria, seraya membenarkannya.
“Kenapa kamu diam? Yasudah, aku harap kamu merenungkan ayat-ayat yang kamu baca. Aku pulang dulu ya.”Kata Ria
Tak lama kemudian, ayah menjemputku. Aku pun pulang sambil merenungkan ayat-ayat tadi. Aku merasa, selama ini aku sombong bagaikan iblis. Astagfirullah...
Keesokan harinya, aku kembali duduk di bangkuku. Otomatis, Anita kembali ke tempatnya. Fira pun yang baru datang merasa heran dengan apa yang kulakukan. Ia berdiri di dekatku dan terpaku melihatku. Ia terdiam dan aku tersenyum padanya. Lalu aku berdiri, menatap wajahnya, dan kudekati dia. Kupeluk erat tubuhnya dan berkata “Fira, maafkan aku.”. Saat itu, aku tak bisa berkata lebih. Air mata yang kubendung, tak kuasa kutahan lagi. Dengan deras, air mataku mengalir membasahi jilbab Fira.
Enggak Nad, kamu nggak salah. Aku yang salah, kamu tak perlu minta maaf. Jangan nangis ya...aku jadi ikutan nangis niiih.”kata Fira sambil menangis
“Iya Fir, sekarang kita bersahabat lagi kan?”tanyaku
“Iya Nadia.”Kata Fira tersenyum sambil menghapus air mataku
Teman-teman pun bersorak dan memberi selamat. Wah..bagaikan mendapat penghargaan. Pada saat itu, aku sangat bahagia. Selain mendapatkan sahabatku kembali, juga bisa belajar dari pengalaman tersebut. Hmm..ternyata marahan itu nggak enak ya...hahaha...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar