“Mulai
detik ini, aku tidak akan pernah mau kenal sama dia. Sahabat macam apa?
Tega-teganya menghancurkan hari terbaikku..!!”
Itulah
komitmenku terhadap MANTAN sahabatku Fira. Bagaimana tidak? Menjelang final
pertandingan basket, dia menjatuhkanku sehingga kakiku sakit, berdarah,
pincang, dan akhirnya aku tidak bisa mengikuti pertandingan. Memang, itu sebuah
ketidaksengajaan, tapi tetap saja dia yang salah.
Rasa
kesalku kepada dia pun semakin meluap-luap ketika melihat dokumentasi pertandingan
saat final. Itu karena group-ku yang
menjadi juaranya dan saat itu, aku tidak berpartisipasi dan hanya berada di
balik layar. Padahal, bertarung dengan Richa cs adalah moment yang paling aku
tunggu-tunggu. Apalagi ini final.
Hari
Senin telah tiba, saatnya kembali ke sekolah. Rasanya, kurang bersemangat.
Bagaikan nenek-nenek saja. Bermata empat dan berjalan lambat. Aku pun minta bertukar
posisi tempat duduk dengan salah seorang temanku, pokoknya aku tidak mau duduk bersama
dia.
“Lho
kenapa? Aneh?? Kalian kan anak kembar, mana mungkin bisa dipisah?” tanya Anita
“Kamu
mau nggak sih?? Kalau nggak, aku
tukar tempat sama yang lain.”kataku dengan tegas
“Iya
deh.”kata Anita
“Gitu donk. Makasih ya...”kataku
Saat
Fira masuk kelas, dia terlihat bingung, lalu mendatangiku.
“Nad,
tempat duduk kita bukannya di depan ya?”tanya Fira
“Dulu.
Tapi sekarang tidak. Oh..ya..sekarang sudah tidak ada lagi kata KITA, adanya
aku, kamu. OK!! Oh..ya, aku juga
belum memberi tahu kamu bahwa sekarang aku duduk bersama Dina sedangkan kamu
sama Anita.”kataku dengan tegas
“Apa??
Tapi kenapa Nadia? Aku salah apa? Gara-gara hari Sabtu kemarin?? Kamu kan tahu,
aku tidak sengaja!! Aku juga sudah minta maaf.”kata Fira
“Apapun
itu, aku tetap marah sama kamu.”kataku dengan lirih
Aku
pun keluar kelas menuju lapangan upacara. Saat upacara hampir dimulai, Fira menghampiriku.
“Nad,
kamu ke UKS saja yuuk, kakimu kan
masih sakit.”kata Fira
“Itu
urusanku. Ini semua juga gara-gara kamu.”kataku
Entah
kenapa, marah masih menyelimuti hatiku. Ya Allah, sulit rasanya menghilangkan
rasa marah. Gara-gara gengsi, kakiku jadi tambah sakit, apalagi saat upacara
selesai. Hampir saja aku tak bisa berjalan. Fira pun merangkulku dan aku
menolaknya. Rasa marah ini masih terus membara sampai pulang sekolah.
Suatu
hari, tepatnya Jumat pukul 17:30 WIB seusai nonton pertandingan basket di
sekolah, ayah telat menjemputku sampai magrib menjelang. Akhirnya aku salat di
mushola. Setelah itu kulanjutkan membaca Al-Qur’an.
Dengan
lirih, kubaca surat Al-Hijr ayat 26-44. Setelah selesai, tiba-tiba temanku yang
baru selesai salat menghampiri.
“Kamu
nggak baca terjemahannya?”tanya Ria
“Enggak.”jawabku
“Memank kamu tahu artinya? Kalau nggak, bagaimana kamu tahu maknanya
kalau artinya saja tidak tahu.”kata Ria
Lalu
kubaca terjemahannya. Sampai ke ayat 32-33 yang berbunyi “Dia (Allah) berfirman, “Wahai iblis! Apa sebabnya kamu (tidak ikut)
sujud bersama mereka?” dan “Ia
(iblis) berkata, “Aku sekali-kali tidak akan sujud kepada manusia yang Engkau
telah menciptakannya dari tanah liat kering dari lumpur hitam yang diberi
bentuk.”.
“Waw...selanjutnya?”kata
Ria
“Dia (Allah) berfirman, “(Kalau begitu)
keluarlah dari surga, karena sesungguhnya kamu terkutuk,”Al-Hijr ayat 34
“Wah,
jadi iblis itu keluar dari surga karena kesombongannya tidak mau bersujud
kepada Adam. Berarti kaya’ kamu
donk!!hahaha...”kata Ria dengan frontal
“Ha??kok
bisa?”tanyaku dengan terkejut
“Yaiyalah.
Sudah 2 minggu ini, kamu marah sama Fira. Sedangkan dia, udah beribu-ribu kali
minta maaf sama kamu.”kata Ria
“Eh,
Ri...memaafkan itu tidak semudah minta maaf.”kataku
“Iya,
bagi orang-orang sombong seperti kamu. Allah saja yang suci mau memaafkan
hambanya sekotor apapun dia, sedangkan kamu yang hanya diciptakan dari setetes
air mani yang hina, tidak mau memaafkan kesalahan temannya. Sebagai manusia, kamu
pasti juga pernah melakukan kesalahan. Kamu juga sudah membaca terjemahan surat
Al- Hijr tadi, iblis itu dikeluarkan dari surga karena dia sombong “merasa
lebih mulia” dari manusia (Adam) sehingga dia tidak mau bersujud. Terus apa
bedanya kamu sama iblis? Dengan tidak mau memaafkan kesalahan orang lain,
otomatis kamu itu sombong merasa mulia
dan bagaikan orang yang tidak pernah melakukan kesalahan.”kata Ria menasihatiku
Aku
hanya terdiam mendengar kata-kata Ria, seraya membenarkannya.
“Kenapa
kamu diam? Yasudah, aku harap kamu merenungkan ayat-ayat yang kamu baca. Aku
pulang dulu ya.”Kata Ria
Tak
lama kemudian, ayah menjemputku. Aku pun pulang sambil merenungkan ayat-ayat
tadi. Aku merasa, selama ini aku sombong bagaikan iblis. Astagfirullah...
Keesokan
harinya, aku kembali duduk di bangkuku. Otomatis, Anita kembali ke tempatnya.
Fira pun yang baru datang merasa heran dengan apa yang kulakukan. Ia berdiri di
dekatku dan terpaku melihatku. Ia terdiam dan aku tersenyum padanya. Lalu aku
berdiri, menatap wajahnya, dan kudekati dia. Kupeluk erat tubuhnya dan berkata
“Fira, maafkan aku.”. Saat itu, aku tak bisa berkata lebih. Air mata yang
kubendung, tak kuasa kutahan lagi. Dengan deras, air mataku mengalir membasahi
jilbab Fira.
“Enggak Nad, kamu nggak salah. Aku yang salah, kamu tak perlu minta maaf. Jangan
nangis ya...aku jadi ikutan nangis niiih.”kata
Fira sambil menangis
“Iya
Fir, sekarang kita bersahabat lagi kan?”tanyaku
“Iya
Nadia.”Kata Fira tersenyum sambil menghapus air mataku
Teman-teman
pun bersorak dan memberi selamat. Wah..bagaikan mendapat penghargaan. Pada saat
itu, aku sangat bahagia. Selain mendapatkan sahabatku kembali, juga bisa
belajar dari pengalaman tersebut. Hmm..ternyata marahan itu nggak enak ya...hahaha...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar